Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sinyal Bunga The Fed dan Data Ekonomi AS Bikin Rupiah Anjlok Pagi Ini

3 min read
Sinyal Bunga The Fed dan Data Ekonomi AS Bikin Rupiah Anjlok Pagi Ini
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah pada awal perdagangan Senin ke level Rp17.948 per dolar AS dan kemudian berada di level Rp17.969.

  • Tekanan rupiah dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah, data ekonomi AS, serta peluang kenaikan suku bunga The Fed.

  • Pengamat memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bagaimana arah rupiah terhadap dolar AS hari ini?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (28/9/2026). Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.948 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.09 WIB, rupiah sudah berada di level Rp17.969 per dolar AS. Rupiah melemah 66 poin atau 0,37 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS. 

Sepanjang perdagangan pagi, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.940 hingga Rp17.972 per dolar AS. Sementara itu, pergerakan rupiah dalam 52 minggu terakhir berada di kisaran Rp16.515 hingga Rp18.209 per dolar AS.

  1. 1. Data ekonomi AS dan geopolitik tekan rupiah

    Pengamat pasar uang Lukman Leong memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut terjadi seiring kenaikan kembali imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury yield serta harga minyak mentah dunia.

    Menurut Lukman, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed. Ekspektasi tersebut muncul setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan.

    "Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS  di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia dan prospek kenaikan suku bunga the Fed menyusul data ekonomi AS (penjualan barang tahan lama) yang lebih kuat serta penolakan porposal Iran oleh AS," kata dia.

  2. 2. Pejabat The Fed beri sinyal bunga bisa naik lagi

    Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan sejumlah pejabat The Fed masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga acuan sekali lagi sebelum akhir tahun.

    Presiden The Fed New York John Williams mengatakan bank sentral AS perlu memastikan inflasi kembali ke target dalam waktu yang tepat. Dia juga menilai kenaikan suku bunga sekali lagi sebelum akhir tahun masih menjadi kemungkinan.

    Sementara itu, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack mengingatkan bahwa semakin lama inflasi bertahan pada level tinggi, semakin sulit bagi bank sentral untuk mengembalikannya ke target.

    Ibrahim mengatakan tekanan terhadap mata uang global juga meningkat setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang kuat. Indeks PMI Komposit S&P Global AS, yang mengukur aktivitas bisnis sektor manufaktur dan jasa, secara tak terduga naik ke level 58,4 pada September. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima tahun.

    "Sementara Data klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197 ribu pada pekan yang berakhir 19 September, di bawah ekspektasi pasar sebesar 201 ribu," tuturnya. 

  3. 3. Rupiah diproyeksi bergerak ke arah Rp18 ribu

    Lukman memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin akan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.

    Sementara itu, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More