Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Struktur Permodalan Perbankan Dipastikan Masih Cukup Kuat
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae. (dok. YouTube OJK)
  • OJK menegaskan struktur permodalan perbankan nasional masih kuat dan mampu menjadi bantalan risiko di tengah ketidakpastian global maupun domestik hingga 2026.
  • OJK dan perbankan rutin melakukan stress test untuk mengantisipasi perubahan kondisi ekonomi, memastikan kesiapan modal serta likuiditas tetap terjaga dengan baik.
  • OJK terus berkoordinasi aktif dengan pemerintah dan KSSK guna memperkuat kebijakan serta menjaga stabilitas sistem keuangan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kinerja perbankan nasional masih akan menunjukkan tren positif pada 2026 di tengah ketidakpastian global.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan struktur permodalan perbankan saat ini cukup kuat untuk menjadi bantalan mitigasi risiko dalam menghadapi ketidakpastian, baik yang berasal dari faktor global maupun domestik.

"Kami memandang kinerja perbankan secara umum akan tetap solid, dengan profil risiko yang terjaga serta fungsi intermediasi yang berjalan baik," kata Dian dalam jawaban tertulis yang dikutip pada Selasa (19/5/2026).

1. Dinamika perkembangan situasi global dan domestik pengaruhi kondisi ekonomi dan iklim investasi

Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)

Meski demikian, Dian mengakui dinamika perkembangan situasi global dan domestik diperkirakan tetap memengaruhi kinerja perbankan Indonesia. Sebab, laju pertumbuhan kredit sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dan iklim investasi.

Karena itu, Dian menilai diperlukan sinergi berkelanjutan antarotoritas dan para pemangku kepentingan guna memperkuat fundamental perekonomian serta menjaga stabilitas sistem keuangan.

"Upaya tersebut ditujukan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sehingga penyaluran kredit perbankan dapat berlangsung secara sehat, prudent, dan memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian nasional," ujarnya.

2. OJK secara rutin lakukan stress test

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Dian menyatakan, dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian global serta perkembangan nilai tukar rupiah, OJK secara rutin melakukan stress test. Selain itu, perbankan juga secara berkala melakukan stress test secara mandiri dengan menggunakan berbagai skenario terkait kondisi perekonomian, pasar keuangan, serta situasi politik global maupun domestik.

"Dengan demikian, bank dapat mengidentifikasi secara dini kondisi yang perlu menjadi perhatian serta menyiapkan mitigasi risiko yang tepat dan terukur, termasuk mengantisipasi dampaknya terhadap permodalan maupun likuiditas perbankan," kata Dian.

Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan pada kondisi makroekonomi Indonesia.

3. OJK secara aktif koordinasi dengan KSSK

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Selanjutnya, OJK juga terus berkoordinasi secara aktif dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait, termasuk yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Hal ini untuk memperkuat bauran kebijakan, melakukan pemantauan, serta menjalankan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan secara sehat dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Editorial Team