Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.921 per dolar AS atau menguat 65 poin (0,35 persen) dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Rupiah Berhasil Ditutup Menguat ke Rp17.921 per Dolar AS

- Rupiah ditutup menguat 65 poin atau 0,35 persen ke level Rp17.921 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, menunjukkan performa positif dibandingkan penutupan sebelumnya.
- Pergerakan mata uang Asia bervariasi, sementara penguatan dolar AS masih membayangi rupiah akibat sikap hawkish The Fed dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
- Sentimen domestik tetap positif setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia, memberi dukungan terhadap kepercayaan investor dan menahan potensi pelemahan rupiah.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan mata uang Garuda hingga akhir perdagangan berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (17/7/2026) sore.
1. Mata uang di Asia bergerak variatif
Daftar pergerakan mata uang di kawasan Asia mayoritas bergerak variatif, rinciannya:
Pesso Filipina menguat 0,04 persen
Yen Jepang menguat 0,04 persen
Won Korea melemah 5,66 persen
Bath Thailand melemah 0,02 persen
Ringgit Malaysia melemah 0,01 persen
2. Dolar AS masih bayangi penguatan rupiah
Analis Pasar Uang, Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah masih akan dibayangi oleh penguatan dolar AS, dipicu pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed), yang kembali meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Rebound dolar AS juga didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu penguatan aset safe haven. Di saat yang sama, sentimen risk off di pasar global semakin menguat seiring aksi jual saham-saham teknologi.
3. Masih ada sentimen domestik dari hasil S&P
Meski demikian, menurut dia, tekanan terhadap rupiah diperkirakan tidak akan terlalu dalam. Sentimen domestik masih cukup positif setelah lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia, sehingga memberikan kepercayaan bagi investor terhadap fundamental ekonomi nasional.
"Sentimen domestik sendiri masih cukup positif pascapenetapan rating kredit oleh S&P yang masih mendukung rupiah sehingga akan membatasi pelemahan," katanya.
















