Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tegas! Prabowo Tak Mau Dengar Laporan Asal Bapak Senang Terkait MBG
Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh ke kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, pada Selasa (17/3/2026) (dok. Tim Media Presiden)
  • Prabowo menegaskan tidak akan mentolerir standar gizi rendah dalam program Makan Bergizi Gratis dan membuka akses publik untuk melaporkan dapur bermasalah demi transparansi.
  • Hingga kini, 1.030 dapur MBG dihentikan operasionalnya karena tak memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan, dengan sertifikasi ketat diterapkan agar kualitas tetap terjaga.
  • Prabowo menolak budaya Asal Bapak Senang dan mendorong laporan jujur dari jajaran pemerintah, menilai informasi palsu dapat menghasilkan keputusan buruk bagi kepentingan rakyat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak akan menoleransi standar gizi yang rendah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia memastikan akan langsung menutup atau menghentikan operasional dapur yang kedapatan tidak beres.

Untuk menjaga transparansi, pemerintah menyediakan nomor telepon bebas pulsa dan membuka titik koordinat dapur agar masyarakat, mulai dari orang tua siswa hingga kepala sekolah, bisa memantau langsung dan melapor jika ada masalah.

"Jadi siapa pun ibu-ibu, orang tua, kepala sekolah, dia boleh masuk dan dia boleh komplain. Jadi memang laporan yang hanya bagus-bagus itu budaya yang tidak baik," katanya saat mengudang jurnalis senior dan pengamat di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, dikutip Kamis (19/3/2026).

1. Pantau kritik lewat media sosial dan podcast

Ilustrasi media sosial (dok. Pexels/Brian Ramirez)

Prabowo mengaku rutin memantau unggahan di media sosial (medsos) hingga podcast yang kritis, bahkan yang bernada menyerang sekalipun. Baginya, kritik tersebut menjadi alarm untuk tetap waspada dan melakukan pengecekan ulang di lapangan.

Setiap kali muncul sentimen negatif atau serangan terhadap program MBG, dia langsung memanggil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meminta klarifikasi. Prabowo juga kerap menerjunkan tim khusus guna memastikan kebenaran informasi yang berkembang di publik.

"Jadi saya sebetulnya walaupun "Eh kurang ajar dia," tapi "Oh ya saya harus lebih waspada," baru saya cek. MBG diserang, saya langsung cek. Panggil kepala BGN, dan saya terus cross check, saya kirim orang-orang saya ngecek," ujarnya.

2. Sudah 1.030 dapur dihentikan operasionalnya

Tangkapan layar TikTok Sidak BGN saat berada di SPPG Talang Jambe Palembang

Hingga saat ini, tercatat ada 1.030 dapur atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang dihentikan sementara karena tidak memenuhi standar. Prabowo menyebut Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang rajin melakukan inspeksi mendadak demi menjaga kualitas makanan.

Pemerintah terus memperketat proses sertifikasi semua dapur MBG. Setiap unit harus lulus uji kebersihan, keamanan pangan, hingga kualitas air yang digunakan. Jika standar tidak dipenuhi dalam kurun waktu tertentu, dapur tersebut dilarang beroperasi kembali.

"Jadi kalau dapur kamu mau survive lebih dari berapa bulan, kamu harus lulus sertifikasi kebersihan, sertifikasi keamanan makanan, dicek airnya gimana, airnya aman, airnya dimasak atau di apa, kemudian omprengnya. Semua itu ada kriterianya," tegas Prabowo.

3. Prabowo sebut budaya ABS sudah membudaya

Presiden Prabowo Subianto saat Sidang Kabinet Paripurna pada Jumat (13/3/2026). (YouTube/Sekretariat Presiden)

Prabowo menyoroti budaya "Asal Bapak Senang" (ABS) dan laporan palsu yang menurutnya sudah mengakar di berbagai institusi di Indonesia. Dia menegaskan informasi yang salah hanya akan melahirkan keputusan yang buruk bagi rakyat.

Dia pun meminta seluruh jajarannya mengubah pola pikir dan berani menyampaikan fakta di lapangan, sepahit apa pun kenyataannya. Baginya, pemimpin harus waspada dan memiliki keberanian untuk menerima laporan yang tidak menyenangkan demi kepentingan nasional.

"Kalau salah informasi ya keputusan tidak baik dan ini masalahnya, sehingga kita harus punya mindset untuk waspada terhadap setiap laporan. Dan benar, kita harus mau dan berani untuk menerima laporan yang paling tidak enak," kata Prabowo.

Editorial Team