ilustrasi petani tanam padi (pexels.com/Long Bà Mùi)
Masalah besar lain ternyata bukan cuma soal bahan bakar, melainkan juga pupuk. Rusia menyumbang sekitar seperempat impor pupuk Asia Tenggara. Sementara itu, China yang sebelumnya menjadi salah satu pemasok pupuk terbesar juga mulai mengurangi ekspor mereka.
Hunter Marston dari Lowy Institute menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat negara-negara ASEAN mengalami tekanan besar di sektor pertanian. Petani di Thailand, Vietnam, Filipina, sampai Indonesia mulai mempertimbangkan ulang rencana tanam karena biaya diesel dan pupuk meningkat tajam. Jika kondisi berlangsung lama, harga pangan bisa ikut melonjak.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund juga mengingatkan bahwa subsidi besar-besaran berisiko membebani keuangan negara. Meski subsidi bisa membantu masyarakat dalam jangka pendek, kondisi fiskal pemerintah bisa ikut tertekan apabila krisis berlangsung terlalu lama. Apalagi banyak ahli memperkirakan pemulihan pasokan energi global masih membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Kondisi krisis energi saat ini membuat banyak negara ASEAN berada dalam dilema besar. Di satu sisi ada tekanan diplomatik dari Uni Eropa agar menjauhi minyak Rusia. Di sisi lain, kebutuhan menjaga ekonomi domestik dan stabilitas sosial terasa jauh lebih mendesak bagi negara-negara Asia Tenggara.
Karena itulah, Rusia kini mulai dipandang sebagai sumber energi alternatif yang sulit diabaikan. Jika konflik global terus memanas, bukan gak mungkin hubungan energi ASEAN dengan Rusia bakal semakin erat dalam beberapa tahun ke depan.