Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tekanan Uni Eropa Tak Digubris, ASEAN Beralih ke Minyak Rusia
ilustrasi isi bensin (unsplash.com/Ali Mkumbwa)
  • Negara-negara ASEAN mengabaikan tekanan Uni Eropa dan mulai membeli minyak Rusia demi menjaga pasokan energi di tengah gangguan distribusi akibat perang Iran.
  • Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam memperkuat kerja sama energi dengan Rusia sambil menerapkan subsidi besar untuk menahan lonjakan harga bahan bakar dan listrik.
  • Krisis energi dan pupuk membuat biaya hidup serta inflasi meningkat di Asia Tenggara, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan regional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Konflik di Timur Tengah ternyata bikin banyak negara Asia Tenggara berada dalam posisi sulit. Pasokan minyak, gas, sampai pupuk mulai terganggu setelah jalur distribusi energi dunia terkena dampak perang Iran.

Di tengah kondisi itu, negara-negara ASEAN justru mulai melirik Rusia sebagai penyelamat kebutuhan energi mereka. Padahal, Uni Eropa terus memberi tekanan agar negara-negara Asia Tenggara gak membeli minyak Rusia karena dianggap membantu pendanaan perang Ukraina.

Meski begitu, banyak pemerintah di kawasan ini merasa kebutuhan energi jauh lebih mendesak dibanding urusan geopolitik yang dianggap jauh dari kepentingan domestik mereka. Akibatnya, minyak Rusia kini mulai dipandang sebagai alat bertahan hidup ekonomi, bukan sekadar isu politik internasional.

1. ASEAN mulai mengabaikan tekanan Uni Eropa

ilustrasi bendera Uni Eropa (unsplash.com/Markus Spiske)

Dilansir DW, Uni Eropa sebenarnya sudah berulang kali memperingatkan negara-negara ASEAN supaya gak meningkatkan pembelian minyak Rusia. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyampaikan bahwa pembelian minyak Rusia bisa membantu Moskow membiayai perang di Ukraina. Meski begitu, negara-negara Asia Tenggara tampaknya punya prioritas berbeda saat ini.

Banyak pemerintah ASEAN lebih fokus menjaga stabilitas ekonomi domestik dibanding memikirkan konflik geopolitik di Eropa. Ian Storey dari ISEAS-Yusof Ishak Institute menjelaskan bahwa krisis energi parah bisa memicu protes sosial dan mengguncang ekonomi negara-negara Asia Tenggara. Karena itulah beberapa negara memilih memastikan pasokan minyak tetap aman meski harus berhadapan dengan tekanan diplomatik dari Barat.

2. Indonesia dan Filipina mulai membeli minyak Rusia

ilustrasi Manila, Filipina (unsplash.com/Michael Buillerey)

Indonesia menjadi salah satu negara yang mulai memperkuat hubungan energi dengan Rusia. Setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow, Indonesia disebut akan mengimpor sekitar 150 juta barel minyak mentah Rusia tahun ini. Langkah tersebut diambil karena kebutuhan energi nasional terus meningkat sementara pasokan global sedang terganggu.

Filipina juga mulai bergerak ke arah serupa. Negara tersebut menerima pengiriman minyak mentah Rusia pertama dalam lima tahun terakhir pada Maret lalu. Meski dikenal sebagai sekutu Amerika Serikat di Asia Tenggara, Manila tetap meminta perpanjangan izin khusus agar bisa terus membeli energi dari Rusia demi menjaga keamanan pasokan dalam negeri.

Thailand dan Vietnam juga mulai mencari jalur alternatif energi serta pupuk dari Rusia. Vietnam bahkan menghadapi tekanan besar setelah China dan Thailand membatasi ekspor bahan bakar olahan, padahal lebih dari 60 persen kebutuhan bahan bakar pesawat Vietnam berasal dari dua negara tersebut. Situasi ini membuat banyak negara ASEAN makin sulit bergantung pada pemasok lama.

3. Krisis minyak kali ini dianggap lebih parah dibanding sebelumnya

ilustrasi Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/U.S. Energy Information Administration)

Gangguan distribusi energi akibat perang Iran disebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Jalur Selat Hormuz, yang biasanya dilalui jutaan barel minyak setiap hari, mengalami penurunan arus distribusi secara drastis. Kondisi tersebut langsung memicu kenaikan harga minyak dunia dalam waktu singkat.

Harga minyak Brent bahkan sempat melonjak hingga sekitar 120 dolar AS per barel atau setara sekitar Rp1,9 juta per barel jika menggunakan kurs Rp16.000 per dolar AS. Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibanding kondisi normal sebelumnya yang berada di kisaran 71 dolar AS atau sekitar Rp1,1 juta per barel. Dampaknya langsung terasa ke biaya hidup masyarakat Asia Tenggara karena harga transportasi, pangan, dan kebutuhan pokok ikut terdorong naik.

Indra Overland dari Norwegian Institute of International Affairs menilai krisis kali ini lebih berat dibanding krisis minyak tahun 1973 maupun 1979. Menurutnya, dunia sekarang menghadapi tekanan bersamaan pada pasar minyak, LNG, dan pupuk sekaligus. Situasi itu membuat banyak negara kesulitan mencari alternatif pasokan energi dalam waktu cepat.

4. Negara ASEAN mulai memakai subsidi demi menahan gejolak

ilustrasi pembangkit listrik (unsplash.com/Andrew Van Hofwegen)

Pemerintah Asia Tenggara kini mulai mengeluarkan berbagai kebijakan darurat untuk menjaga stabilitas ekonomi. Indonesia menggelontorkan subsidi energi dan kompensasi sekitar 22,4 miliar dolar AS atau setara kurang lebih Rp358 triliun. Langkah ini dilakukan agar harga bahan bakar dan listrik gak melonjak terlalu tinggi di masyarakat.

Thailand memilih mempertahankan harga gas elpiji supaya gak naik demi meringankan beban masyarakat. Malaysia juga melakukan hal serupa dengan memperbesar subsidi energi bulanan mereka. Bahkan biaya subsidi bahan bakar Malaysia disebut naik dari sekitar 179 juta dolar AS menjadi 1,5 miliar dolar AS per bulan atau setara sekitar Rp24 triliun.

Filipina menghadapi tekanan yang lebih berat karena sistem harga energi mereka lebih mengikuti mekanisme pasar. Inflasi negara itu melonjak menjadi 7,2 persen hanya dalam waktu singkat. Kelompok transportasi dan organisasi konsumen bahkan mulai mengancam mogok akibat biaya bahan bakar yang terus naik.

5. Krisis pupuk bisa memicu masalah pangan di Asia Tenggara

ilustrasi petani tanam padi (pexels.com/Long Bà Mùi)

Masalah besar lain ternyata bukan cuma soal bahan bakar, melainkan juga pupuk. Rusia menyumbang sekitar seperempat impor pupuk Asia Tenggara. Sementara itu, China yang sebelumnya menjadi salah satu pemasok pupuk terbesar juga mulai mengurangi ekspor mereka.

Hunter Marston dari Lowy Institute menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat negara-negara ASEAN mengalami tekanan besar di sektor pertanian. Petani di Thailand, Vietnam, Filipina, sampai Indonesia mulai mempertimbangkan ulang rencana tanam karena biaya diesel dan pupuk meningkat tajam. Jika kondisi berlangsung lama, harga pangan bisa ikut melonjak.

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund juga mengingatkan bahwa subsidi besar-besaran berisiko membebani keuangan negara. Meski subsidi bisa membantu masyarakat dalam jangka pendek, kondisi fiskal pemerintah bisa ikut tertekan apabila krisis berlangsung terlalu lama. Apalagi banyak ahli memperkirakan pemulihan pasokan energi global masih membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Kondisi krisis energi saat ini membuat banyak negara ASEAN berada dalam dilema besar. Di satu sisi ada tekanan diplomatik dari Uni Eropa agar menjauhi minyak Rusia. Di sisi lain, kebutuhan menjaga ekonomi domestik dan stabilitas sosial terasa jauh lebih mendesak bagi negara-negara Asia Tenggara.

Karena itulah, Rusia kini mulai dipandang sebagai sumber energi alternatif yang sulit diabaikan. Jika konflik global terus memanas, bukan gak mungkin hubungan energi ASEAN dengan Rusia bakal semakin erat dalam beberapa tahun ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team