Minyak Rusia Diblokir, Hungaria Ancam Jegal Dana Uni Eropa bagi Ukraina

- Hungaria mengancam memveto pinjaman 106 miliar dolar AS untuk Ukraina karena pasokan minyak Rusia melalui pipa Druzhba terhenti, menandai ketegangan baru antara Budapest dan Kiev.
- Pemerintah Slovakia mendukung Hungaria dengan ancaman menghentikan pasokan listrik ke Ukraina jika aliran minyak tidak segera dipulihkan, memperluas dampak krisis energi di Eropa Tengah.
- Krisis pipa Druzhba memicu perdebatan di Uni Eropa soal bantuan finansial untuk Ukraina, sementara Brussel berupaya menengahi agar kesepakatan baru dapat dicapai tanpa mengganggu stabilitas energi regional.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Hungaria secara resmi melayangkan ancaman diplomatik terkait kelanjutan bantuan finansial Uni Eropa untuk Ukraina. Menyikapi krisis energi yang sedang berlangsung, Perdana Menteri (PM) Viktor Orban secara tegas menyatakan akan memveto pinjaman sebesar 106 miliar dolar AS (Rp1,7 kuadriliun) jika pasokan minyak Rusia melalui wilayah Ukraina tidak segera dipulihkan sepenuhnya.
Langkah berani ini diambil setelah operasional jalur pipa Druzhba, yang sangat krusial bagi ketahanan energi nasional Hungaria, terhenti total sejak akhir Januari lalu. Terkait terputusnya aliran minyak tersebut, otoritas Kiev mengklaim , kerusakan infrastruktur murni diakibatkan oleh serangan udara dari pihak militer Rusia.
1. Hungaria veto dana Uni Eropa imbas blokade pipa minyak di Ukraina
Ancaman PM Orban menandai eskalasi ketegangan serius antara Budapest dan Kiev dalam beberapa tahun terakhir. Pinjaman 106 miliar dolar AS (Rp1,7 kuadriliun) tersebut merupakan paket bantuan tanpa bunga yang telah disetujui oleh Uni Eropa pada Desember 2025 untuk mendukung kebutuhan ekonomi dan militer Ukraina.
Hungaria menegaskan, mereka tidak akan mendukung keputusan apa pun yang menguntungkan Ukraina selama pasokan energi nasional mereka terancam oleh kebijakan transit Kiev. Sementara melalui akun media sosial resminya, Orban memberikan pernyataan tegas untuk menekankan posisi tawar negaranya di hadapan blok Uni Eropa.
"Selama Ukraina memblokir pipa Druzhba, Hungaria akan memblokir pinjaman perang Ukraina. Kami tidak akan bisa dipermainkan!" ujar Orban, dilansir dari Yahoo Finance.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, menuduh Ukraina melakukan tindakan yang melanggar hukum internasional dan komitmen mereka terhadap Uni Eropa.
"Dengan memblokir transit minyak ke Hungaria melalui pipa Druzhba, Ukraina melanggar Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Ukraina dan melanggar komitmennya kepada Uni Eropa. Kami tidak akan menyerah pada pemerasan ini," kata Szijjarto, dilansir Al Jazeera.
Budapest memandang penghentian aliran minyak ini sebagai upaya Kiev untuk menekan Hungaria yang bersikap kritis terhadap aksesi Ukraina ke Uni Eropa.
Pipa Druzhba, yang membentang dari Rusia hingga Eropa Tengah, merupakan jalur utama bagi kilang minyak di Hungaria dan Slovakia yang masih bergantung pada pasokan minyak mentah jenis Urals. Kerusakan pada pipa tersebut dilaporkan terjadi pada Selasa (27/1) di wilayah Ukraina barat akibat serangan pesawat tak berawak Rusia yang mengenai infrastruktur pemompaan. Dampak dari penghentian ini sangat terasa bagi ekonomi Hungaria karena negara tersebut merupakan salah satu importir bahan bakar fosil Rusia terbesar di Uni Eropa.
Untuk menjaga stabilitas operasional, pemerintah Hungaria telah mengambil langkah darurat dengan merilis cadangan minyak strategis negara atas permintaan perusahaan energi nasional, MOL. Namun, langkah ini dianggap hanya sebagai solusi jangka pendek karena kapasitas cadangan tersebut tidak mampu menopang kebutuhan jangka panjang tanpa adanya pasokan baru. Hungaria berargumen bahwa ketergantungan mereka pada energi Rusia adalah fakta geografis dan infrastruktur yang tidak dapat diubah secara instan tanpa memicu keruntuhan ekonomi nasional.
Ketidakpastian mengenai kapan perbaikan pipa Druzhba akan selesai memicu kekhawatiran bahwa krisis ini akan berlanjut. Otoritas Ukraina menyatakan bahwa perbaikan sedang dilakukan di bawah ancaman serangan udara yang terus berlangsung, namun Hungaria meragukan penjelasan teknis tersebut dan menganggapnya sebagai alasan politik.
2. Slovakia ancam putus listrik Ukraina imbas blokade pipa minyak
Penghentian operasional pipa Druzhba sejak akhir Januari 2026 tidak hanya berdampak pada Hungaria, tetapi juga memicu reaksi keras dari pemerintah Slovakia. Jalur pipa ini berhenti berfungsi setelah serangan udara Rusia di kota Brody mengakibatkan kebakaran besar yang baru bisa dipadamkan setelah 10 hari. Meskipun Ukraina menawarkan rute alternatif atau pengiriman jalur laut, Hungaria dan Slovakia menilai solusi tersebut tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan teknis kilang minyak mereka.
Merespons situasi ini, Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, secara agresif mendukung posisi Hungaria dan mengeluarkan ultimatum terkait pasokan listrik darurat.
"Jika pada 23 Februari 2026 Presiden Ukraina tidak melanjutkan pengiriman minyak, saya akan meminta perusahaan-perusahaan Slovakia untuk menghentikan pasokan listrik darurat ke Ukraina pada hari yang sama," kata Fico, dilansir PBS.
Ancaman ini sangat serius karena Slovakia merupakan salah satu pemasok listrik utama untuk menutupi defisit energi Ukraina akibat serangan Rusia. Terkait hal ini, Menteri Ekonomi Slovakia, Denisa Sakova melaporkan, Ukraina terus menunda jadwal pengiriman kembali minyak melalui pipa Druzhba. Penundaan ini dianggap sebagai tindakan tidak bersahabat oleh pemerintah Slovakia, yang mengklaim perbaikan teknis sebenarnya telah selesai berdasarkan informasi intelijen mereka.
Berdasarkan data lembaga analisis energi, aliran minyak melalui cabang selatan pipa Druzhba pada Januari 2026 rata-rata hanya mencapai 150 ribu barel per hari sebelum kerusakan terjadi. Angka ini turun drastis dibandingkan rata-rata harian tahun sebelumnya yang mencapai 200 ribu barel per hari. Penurunan pasokan ini akhirnya memaksa Hungaria dan Slovakia untuk menghentikan sementara ekspor bahan bakar diesel ke Ukraina sebagai bentuk pembalasan.
Di sisi lain, Ukraina berdalih bahwa pemulihan infrastruktur energi yang rusak memerlukan waktu dan kondisi keamanan yang terbebas dari serangan rudal Rusia. Mereka menegaskan bahwa para teknisi harus bekerja di bawah ancaman yang membahayakan nyawa demi memulihkan fasilitas di Brody.
Dampak dari krisis energi ini kini meluas ke sektor ketenagakerjaan dan logistik di kawasan Eropa Tengah, di mana kilang minyak harus menyesuaikan jadwal produksi dengan ketersediaan bahan baku yang terbatas. Hungaria dan Slovakia adalah dua negara terakhir di Uni Eropa yang masih diizinkan mengimpor minyak Rusia melalui jalur pipa karena ketiadaan akses ke laut.
3. Krisis pipa minyak ancam dana bantuan Uni Eropa untuk Ukraina
Keputusan Hungaria yang mengaitkan bantuan Uni Eropa dengan masalah energi memicu perdebatan di Brussel. Perdebatan ini menyoroti kesatuan sikap blok tersebut terhadap Rusia. Saat sebagian besar anggota Uni Eropa berhasil melepaskan diri dari ketergantungan energi Rusia, Hungaria justru meningkatkan impor minyak dan gasnya sejak awal perang pada 2022. PM Orban konsisten menentang sanksi terhadap sektor energi Rusia, dengan alasan hal itu akan menjadi bunuh diri ekonomi bagi negaranya.
Menlu Hungaria menegaskan, negaranya tidak akan membiayai perang yang tidak mereka dukung dan menolak mengorbankan kepentingan nasional.
"Kami tidak akan menyerah pada pemerasan ini. Kami tidak mendukung perang Ukraina, kami tidak akan membayarnya," kata Szijjarto, dilansir CTV News.
Uni Eropa kini menghadapi tantangan prosedural karena pencairan paket pinjaman 106 miliar dolar AS membutuhkan persetujuan bulat dari seluruh negara anggota. Sebelumnya, Hungaria, Slovakia, dan Republik Ceko sempat menentang rencana pinjaman ini. Kesepakatan akhirnya tercapai setelah mereka mendapat jaminan perlindungan dari kerugian finansial. Namun, krisis pipa Druzhba membatalkan konsensus tersebut, sehingga bantuan finansial untuk Ukraina terancam batal total jika kesepakatan baru tidak segera dicapai.
Saat ini, Komisi Eropa tengah berupaya memediasi konflik tersebut melalui Oil Coordination Group, yang mengevaluasi keamanan pasokan energi bersama perwakilan negara anggota.
"Kami tidak melihat adanya keadaan darurat jangka pendek atau risiko terhadap keamanan pasokan saat ini, karena Hungaria dan Slovakia telah memelihara stok cadangan minyak darurat selama 90 hari," ujar juru bicara Komisi Eropa, dilansir Pravda.
Di sisi lain, Ukraina bersikukuh bahwa terhentinya aliran pipa Druzhba adalah masalah teknis murni akibat agresi militer Rusia, bukan taktik politik. Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan, negaranya tidak akan menyerah dan menyerukan dukungan internasional yang lebih kuat untuk mengamankan infrastruktur energi. Kiev juga meminta Brussel untuk turun tangan mendesak Hungaria dan Slovakia agar berhenti menyalahkan Ukraina atas kerusakan yang diperbuat oleh militer Rusia.















.jpg)
