Hungaria Desak Uni Eropa Setop Embargo Minyak Rusia

- Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban mendesak Uni Eropa menangguhkan embargo energi Rusia demi menekan lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
- Orban menilai kebijakan embargo membuat Hungaria kesulitan pasokan minyak karena pipa Druzhba diblokade Ukraina, sementara Uni Eropa tetap mempertahankan sanksi terhadap Rusia.
- Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat menghentikan sementara embargo minyak, di tengah kenaikan harga hingga 120 dolar AS per barel akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Hungaria mendesak Uni Eropa untuk menyetop sementara embargo minyak dan gas yang diberikan kepada Rusia. Desakan tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, pada Senin (9/3/2026).
Menurut Orban, penyetopan embargo minyak Rusia diperlukan untuk menurunkan harga minyak global. Sebab, harga minyak saat ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi karena situasi konflik di Timur Tengah yang disebabkan perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
"Kita harus meninjau dan menangguhkan semua sanksi yang dikenakan pada energi Rusia di seluruh Eropa. Saya telah memulai ini hari ini dalam sebuah surat kepada Presiden Komisi (Eropa), Ursula von der Leyen," kata Orban dalam sebuah video yang dirilis di Facebook, seperti dilansir CNA.
1. Orban sudah beberapa kali mengkritik kebijakan embargo minyak Rusia

Sebetulnya, Orban sudah berkali-kali mengkritik kebijakan embargo minyak Rusia yang diterapkan oleh Uni Eropa. Sebab, ia menilai, kebijakan tersebut membuat harga minyak global ikut naik.
Selain itu, kebijakan tersebut juga membuat Hungaria kesulitan mendapatkan pasokan minyak dari Rusia. Terlebih, saat ini, Ukraina juga sudah memblokade pipa Druzhba yang biasa digunakan Rusia untuk memasok minyak ke Hungaria.
Namun, kritik Orban terhadap kebijakan embargo minyak Rusia tidak pernah didengar oleh Uni Eropa. Sebab, jika embargo disetop, Rusia akan mendapatkan banyak uang untuk menyerang Ukraina dari hasil penjualan minyak ke negara-negara Uni Eropa, termasuk Hungaria.
2. Donald Trump akan menyetop embargo minyak dari Rusia

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah memutuskan untuk menyetop sementara embargo minyak dari Rusia. Langkah ini diambil untuk mengatasi kenaikan harga minyak global.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Senin, Trump setuju untuk menyetop sementara embargo minyak Rusia sampai situasi di Timur Tengah kembali normal.
“Jadi, kami memberlakukan sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi tersebut sampai Selat Hormuz kembali normal,” ujar Trump usai menghubungi Putin, seperti dilansir The Guardian.
3. Harga minyak global naik akibat Iran memperketat pengamanan di Selat Hormuz

Saat ini, harga minyak global memang sedang naik. Per Senin kemarin, harga minyak sudah menyentuh angka 120 dolar AS atau Rp2 juta per barel. Kenaikan harga minyak ini terjadi karena Iran memperketat pengamanan di Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya yang dirilis pada Selasa (10/3/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan tidak akan mengizinkan negara-negara Timur Tengah untuk mengekspor minyaknya lewat Selat Hormuz sampai perang dengan AS dan Israel usai.
“Kami tidak akan membiarkan 1 liter minyak pun dari Timur Tengah untuk diekspor melalui Selat Hormuz,” bunyi pernyataan IRGC, seperti dilansir The Strait Times.
Langkah yang dilakukan Iran ini membuat suplai minyak dari Timur Tengah ke pasar global terhambat. Inilah yang kemudian membuat harga minyak melambung tinggi.


















