Comscore Tracker

Dolar AS Keok, Rupiah Menguat ke Rp14.668 di Akhir Pekan

Rupiah menguat 97 poin

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah berhasil menghajar dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (12/8/2022).

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah menguat 97 poin atau 0,66 persen ke level Rp14.668 per dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini.

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan pagi tadi, kurs rupiah dibuka menguat 16 poin ke level Rp14.748 per dolar AS, melanjutkan penguatan penutupan perdagangan Kamis, 11 Agustus 2022, sebesar 71 poin ke level Rp14.765 per dolar AS.

Baca Juga: Inflasi AS Melambat, Rupiah Kembali Pecundangi Dolar 

1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada Jumat (12/8/2022), nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp14.688 per dolar AS.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kurs rupiah pada Kamis yang ada di level Rp14.799 per dolar AS. Dengan kata lain rupiah mengalami penguatan.

Baca Juga: 6 Anak Muda Terkaya di Indonesia, Hartanya Triliunan Rupiah! 

2. Rupiah menguat dipengaruhi data inflasi AS

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan nilai dolar AS sedikit lebih rendah pada Jumat, menyusul kerugian 1 persen pada hari sebelumnya ketika data menunjukkan inflasi AS tidak sepanas yang diantisipasi pada bulan Juli, mendorong para pedagang untuk memutar kembali ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan oleh Federal Reserve (The Fed).

"Komentar semalam dari pejabat Fed di jalur pengetatan kebijakan membuat investor tidak yakin atas suku bunga di masa depan," katanya, Jumat (12/8/2022).

Sementara faktor internal yang mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah defisit anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diperkirakan dapat mencapai tingkat lebih rendah sekitar 3,8 persen dari proyeksi pemerintah terakhir di 3,9 persen dari Produk Domestic Bruto (PDB).

Peneyebabnya, dijelaskan Ibrahim adalah kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia di pasar global sehingga menambah penerimaan negara secara signifikan pada tahun ini.

"Penerimaan negara yang meningkat tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk menambah subsidi energi sehingga kenaikan harga di dalam negeri tidak setinggi di banyak negara lainnya," ujarnya.

Pembengkakan subsidi pun, menurutnya tidak akan begitu besar. Sebab, harga minyak dunia ke depan diperkirakan akan turun. Hal itu tercermin dari harga bensin dunia yang telah turun signifikan dibandingkan dengan harga minyak dunia dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: Nielsen Catat Belanja Iklan Capai Rp135 Triliun di Semester I-2022

3. Rupiah berpeluang menguat lagi di awal pekan depan

Ibrahim memproyeksikan pada perdagangan awal pekan depan, nilai tukar rupiah masih akan berfluktuasi, namun cenderung menguat.

"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatuf namun ditutup menguat di rentang Rp14.650-Rp14.720," tambahnya.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya