Comscore Tracker

Tumbangkan Dolar AS Sore Ini, Rupiah Masih Dibayangi Pelemahan

Rupiah menguat 55 poin

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah berhasil melawan dominasi dolar Amerika Serikat (AS) hingga penutupan perdagangan Selasa (4/10/2022).

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah menguat sebanyak 55 poin atau 0,36 persen ke level Rp15.247,5 per dolar AS. Seharian ini, rupiah bergerak di rentang Rp15.237 sampai Rp15.312 per dolar AS.

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan pagi tadi, kurs rupiah dibuka menguat 20 poin ke level Rp15.282,5 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Sedikit Bertenaga Pagi Ini, Bakal Bertahan Seharian Gak ya?

1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada Selasa (4/10/2022), nilai tukar rupiah tercatat Rp15.276 per dolar AS.

Angka tersebut lebih kecil dibandingkan kurs rupiah pada Senin yang ada di level Rp15.293 per dolar AS. Dengan kata lain rupiah mengalami penguatan.

Baca Juga: Apa sih Bedanya Perbedaan Pasar Uang dengan Pasar Modal?

2. Penguatan rupiah dipengaruhi kebijakan Inggris

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menilai penguatan mata uang rupiah sore ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Inggris yang mengesahkan pajak untuk pengusaha. Menurutnya itu menandakan bahwa reformasi terjadi secara besar-besaran di Inggris.

"Ya walaupun PDB kuartal ketiga tidak terjadi kontraksi ya, di 0,2 persen, artinya apa? bahwa Inggris ini dalam kondisi aman walaupun saat ini terjadi inflasi yang cukup tinggi di 10 persen. Nah, ada harapan bahwa Bank of England pun masih akan terus menaikkan suku bunga," ujarnya.

Faktor lainnya yang membuat rupiah bertenaga adalah sinyal dari bank sentral Eropa yang kemungkinan besar akan melakukan pengetatan secara agresif. Tak lain dan tak bukan, demi menekan laju inflasi di Uni Eropa yang sudah mencapai 10 persen.

"Ini yang membuat indeks dolar kembali lagi mengalami pelemahan," tutur Ibrahim.

Sedangkan faktor dalam negeri yang menopang rupiah adalah inflasi September yang lebih rendah dari ekspektasi ekonom. Menurutnya itu mengindikasikan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia terus bahu membahu untuk menangani pelemahan inflasi.

"Nah, ini yang membuat rupiah kembali lagi hari ini mengalami penguatan," katanya.

Baca Juga: 4 Perbedaan Bank Asing dan Bank Nasional, Wajib Tahu!

3. Rupiah masih berpotensi melemah pada perdagangan besok

Ibrahim memproyeksikan pada perdagangan Rabu (5/10/2022), nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. Pelemahannya diperkirakan di kisaran 50 hingga 60 basis poin dari angka penutupan sore ini.

Sebab, efek dari Inggris terhadap penguatan rupiah hanya bersifat sementara. Secara jangka menengah dan jangka panjang, kemungkinan besar indeks dolar masih akan kuat karena bank sentral AS kelihatannya masih agresif menaikkan suku bunga.

"Di minggu ini pun (bank sentral AS) juga akan melakukan pertemuan membahas tentang kenaikan suku bunga yang kemungkinan 75 basis poin. Di sisi lain pun juga kita tahu bahwa inflasi Amerika kemungkinan di bulan September 8,5 persen," tambah Ibrahim.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya