Comscore Tracker

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer Gojek

Cerita sukses dan gagal dalam kariernya

Jakarta, IDN Times –  Catherine Hindra Sutjahyo adalah gambaran pas dari “less is more”.  Chief Food Officer GO-JEK Grup ini selalu tampil kasual. Wajah tanpa riasan, baju model sederhana.

Ketika mulai mengajaknya berbicara, kita tahu dia adalah “more”, alias lebih.  Lebih matang dari usianya yang baru 35 tahun. Lebih dalam semangat inovasi dan greget mengembangkan usaha kecil dan menengah. Lebih energi dalam mengurusi bisnis dengan 500 ribu mitra alias merchant GoFood.  

Yes, kalian pasti tahu layanan pesan antar makanan dengan menggunakan jasa pengemudi sepeda motor Gojek itu, bukan?

Catherine yang asli Surabaya ini adalah boss lady Go-Food. Jabatan Chief Food Officer yang disandangnya boleh jadi adalah satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia.

“Aku suka banget makan,” kata dia sambil terbahak, saat menjawab pertanyaan saya dalam program Video Suara Millennial by IDN Times, di kantor IDN Media HQ, Kamis, 28 November 2019. 

Saya membayangkan bagaimana Catherine setiap hari memonitor jutaan transaksi yang seliweran di sistem Go_Food sambil memikirkan, “wah, mau pesan makan apa ya hari ini?”. Asik, bukan?

Sebagai pengguna biasa, saya pun sering memelototi gambar dan jenis menu yang disajikan di sana. Millennial banget, meskipun generasinya kolonial. Sibuk dan lelah bekerja sehingga memilih tidak memasak menjadi alasan kuat untuk pesan layanan antar makanan. 

Catherine melewatkan sekolah dasar sampai menengah di Surabaya, kemudian melanjutkan ke Singapura. Dia lulus dari Nanyang Technological Singapura. Setelah sempat bekerja di negeri itu, Chaterine merantau jauh ke India. “Saya tinggal di India hampir 2 tahun,” tuturnya.  

Di India, Catherine jatuh hati pada dunia startup, usaha rintisan.

Tahun 2010 dia balik ke Indonesia. “The rest is history,” ujar dia. Catherine ikut mendirikan dan menjadi direktur pengelola Zalora, platform e-commerce. Empat tahun perusahaan ini, Catherine pindah menjadi direktur utama Alfacart, yang memberikan kemudahan belanja dengan harga sama di manapun konsumen berada, sampai ke pelosok.

Yuk, simak obrolan IDN Times dengan Catherine:

1. Bagaimana cerita soal kembali ke Indonesia, bertemu Nadiem Makarim dan mendirikan bisnis bareng?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekIDN Times/Arief Kharisma Putra

Aku ingin melakukan sesuatu untuk Indonesia. Helping being part of them karena aku rasa pada saat ngebanding-bandingin, aku sempat travelling a lot gitu, jadi kerjaan aku yang dulu itu sempat travelling di China, di India, Japan, and everything gitu. Pada saat ngeliat, Indonesia itu sebenarnya potensinya besar sekali gitu. Ada panggilan buat balik. 

Oh ini, yang maksudnya Nadiem tau kan ya? Nadiem Makarim, Co-Foundernya Gojek, yang sekarang Menteri Pendidikan dan Menteri Kebudayaan, Mas Menteri.

Aku dulu sama Nadiem itu barengan jaman di our first job. Jadi, Nadiem sama aku, have a same first job. Waktu itu dari Management Consultant. Jadi kita barengan di sana, terus habis itu pada saat Zalora dimulai, pull of fast kita became the Co-Founder together waktu itu. 

Terus habis itu, ya I think we just enjoy working with each other, jadi keep doing it sampai sekarang. Sampai Nadiem  jadi Mas Menteri. 

2. Pernah alami kegagalan dalam proses di pekerjaan?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekIDN Times/Arief Kharisma Putra

Banyak banget, banyak banget sebenernya gagal.

Even sampai hari ini gagal dalam arti hari ini kita di Gojek, di GoFood, kita selalu bereksprimen, mencoba hal baru. Itu kan gak semua yang kita coba, itu pasti langsung berhasil dari day 1.

Tapi kalau ngomong, pernah gak sih gagal yang banget-banget gitu. Oh ya, of course gitu. Kayaknya waktu itu tahun dua ribu berapa ya, after my first job. Jadi aku masih must be like 22-23 years gitu.

Waktu itu habis pertama kali yang Management Consultant, terus kepengen nyoba-nyoba bikin usaha sendiri gitu ya. Awal itu masih apa namanya, pengen nyoba all the savings itu selama kerja gitu kan beberapa tahun dicoba, and it didn’t work out.

Itu modal sendiri. Gak minta sama orang tua juga gak? 

I made it clear that time, kalau pengen nyoba sendiri justru, pengen jadi apa namanya, aku batasin berdasarkan dari savings aku sendiri waktu itu. Tapi kayaknya pelajaran dari situ adalah, ada kata-kata fail fast, fail early. Jadi waktu itu untung aku punya mentor, dia selalu ngomong sama aku.

“Cath, pokoknya satu, jangan pernah fall in love with your idea. Yes you have to be passionate, tapi gak bisa yang, you are not married to your idea.

If it doesn’t work, you have to know, kapan harus kayak ya sudahlah, stop, close. Jadi jangan baperan. Mungkin kayak gitu ya istilahnya ya.

Jadi waktu itu aku inget tuh, udah nih, udah abis semuanya, within 6 months. 6 months, kayaknya gak bisa nih, dan waktu itu padahal sayang banget ya.

Kadang-kadang sering itu akhirnya tipikal pitfall, udah habis banyak nih. Habis banyak dalam arti, habis banyak waktu, habis banyak duit, bisa segala macam, terus jadi sayang. Habis sayang, diterus-terusin jadi banyak lost.

Pivot boleh, it’s very different. Kalau kita belajar, habis itu gimana cara kita pivot, that’s very different gitu ya. Tapi untuk, karena sometimes it takes ego as well, take our ego buat bilang, eh ternyata gue salah, man kemarin.

Karena of course kita pada saat semua mulai, pasti mikirnya it’s gonna be the most brilliant thing, ternyata kan gak semua ide kita brilian dari hari pertama. Kalau kita lihat semua usaha-usaha sukses kan, I’m sure itu semua bukan ide dari Day 1, exactly happen. Itu selalu banyak yang namanya iteration, tweaking, and pivot.

Dalam proses itu untungnya aku punya tempat curhat. Mentor. I’m thankful in life, banyak banget sebenarnya. Pasti yang pertama keluarga ya, my mom, biggest supporter. Kalau mama aku itu tipenya itu kayak gini, gak pernah sekalipun, I can’t recall, Sekali beliau bilang, “Jangan, gak bagus idenya”, gak pernah.

Jadi kadang-kadang itu tapi aku mungkin under relation sama mama jadi kayak gini, 'Ma, aku mikir ini-ini begini nih.' Oh ya, menarik juga. So, she is always been the supporter.

Tapi aku tipenya kalau kadang-kadang aku kayak ngebaca respon dia gitu. Kalau dia bilang kayak, “masih kurang nih.” not that she is saying no, tapi you know what I mean. Kayak gitu.

Jadi I think, of course, Mom. A lot of mentor at work, banyak banget teman-teman yang kenal dari kerja, yang we stay friends, yang become a thought partner. Selalu tuker ide, kalau kayak gini nih make sense gak sih, kita ngomong gitu.

So, I have this satu mentor, kita punya kebiasaan nih, kalau tiap kali bikin business model gitu, selalu satu bikin, biasanya aku kasih gini contohnya, nih coba. Tugasnya cuma satu, tell a report.

Just basically, look for a worst scenario in that gitu. Jadi kita apa namanya, keep changing the role, gantian, ya udah terus di-switch gitu, and of course a lot of friends.

Saya punya sahabat? Iya, Wah, I have a quite number, very good girl friends. Sahabat-sahabat dari teman kuliah yang sampai hari ini, meskipun kita sekitar 5 cewek itu temen kuliah bareng yang sekarang scattered all over the world.

Tapi kita, thanks to technology, still talking everyday. Dan ada video juga ya, bisa ngobrol kayak deket banget. Kadang-kadang kita yuk, minggu malam dinner bareng.

Dinner bareng itu intinya pesen delivery food masing-masing, kita video call, terus kita makan rame-rame. Gak semua di Indonesia, kita komunikasi semua lewat video. Lucu juga ya. Makan bareng tapi distance ya.

Baca Juga: Gandeng NU, Gojek Kembangkan Sedekah Digital Pakai QR Code

3. Bagaimana cerita soal GoFood yang menjadi App yang mendukung kegiatan bisnis UMKM sektor kuliner?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekCatherine Hindra Sutjahyo (Chief Food Officer, Gojek Group) dalam acara Suara Millenial di kantor HQ IDN Media pada tanggal 28 November 2019 (IDN Times/Arief Kharisma Putra)

Sebenarnya basically itu niatan yang dilakukan Gojek Group sejak awal. Jadi pertama ide Gojek, gara-gara Nadiem, which is our Co-Founder, itu dia pergi meeting. Dia pergi meeting, terus macet, dan dia udah telat, jadi dia buru-buru manggil ojek waktu itu. Manggil ojek, habis manggil ojek pas nyampe di tempat meeting-nya, dia ngomong sama bapaknya. 'Pak, 2 jam lagi jemput saya di sini ya'. Bapaknya bilang, gak bisa mas, 2 jam lagi saya gak tau saya lagi di mana.

Terus basically how it started, dia  idenya mikir, eh kalo gitu gimana kalo ada call center buat ojek, sama kayak taksi, ada call center gitu. That’s how Gojek started. Fast forward a little bit, 2015 awal, the call center diubah menjadi aplikasi. Nah pada saat aplikasi itu, that’s where it’s boom, even fact surpass our wildest expectation.

Dalam 2-3 bulan pertama itu kayak, plan setahun itu tiba-tiba udah tercapai. Nah pada saat kita launching, Gojek itu 3 produknya, sekarang kan sekitar 20 lebih. Ada 25 lebih product kita punya services di Gojek. Mulai dari super app ya. Pertamanya cuma 3. Pertama transportasi itu yang GoRide, untuk taksi, motorcycle taxi.

Kedua itu GoSend untuk kirim dokumen, karena waktu itu kita kepikirannya, kayaknya dokumen nih orang butuh dikirimin, kalau bukan cuma penumpang gitu kan. Yang ketiga, kita waktu itu adalah GoShop, GoShop itu conceirge service,  minta apa aja dibantuin sama mas drivernya ini, mas Gojeknya. 

Ternyata, within one month, 80 persen lebih yang direquest orang itu makanan. That’s how we start to build GoFood. Jadi GoShop itu sampai sekarang masih ada, itu adalah cikal bakal daripada produk-produk service-service yang lain daripada Gojek.

Tapi kalau kita ngomong bagaimana we end up empowering UMKM, itu sebenarnya juga is a very happy accident or coincidence. Karena pada saat kita mulai, kita berpikirnya adalah gak bisa nih kalau kita mulai, kan restoran Indonesia banyak banget, jadi kita gak bisa bilang, 'eh misalnya namanya punya restoran kan, Bu daftar dong di GoFood', kan lama.

So, what we do, kita hack it, gitu. Kita hack itu dengan semua restaurant, kita listing semua restaurant. Karena kan waktu itu belum terlalu ada yang namanya business food delivery.

Jadi kalau kita ngomong sama pemilik restaurant, ini nih konsepnya food delivery, untuk mereka mengerti itu dan percaya, it takes a leap of faith. Kita coba dulu, we show the result. That’s always the train of thought of Gojek gitu.  Jadi kita coba, ternyata rame kan.

Pada saat rame, kita tawarin restoran-restoran yang rame, kita baru dateng, 'Pak, Bu, lihat gak yang biasanya selalu beli makanan yang jaket ijo-ijo itu? Itu dari Gojek lho. Yuk, bergabung dengan kita. Kalau bergabung, nanti kita menunya lebih jelas, gini gitu, habis itu delivery food-nya juga lebih, karena kita sudah terintegrasi antara merchant dan GoFood.'

That’s how we started. 

Tapi, fast forward empat tahun sekarang ini, yang kita sangat-sangat happy dan sangat sangat privileged itu adalah ternyata GoFood itu bukan cuma untuk restoran yang sudah ada tiba-tiba sekarang ada tambahan income dengan online. Tapi banyak banget ternyata menjadi jenis usaha baru.

Jadi ibu-ibu atau even bapak-bapak yang dulunya jago bikin siomay biasanya untuk keluarganya doang gitu ya. Ada berapa banyak kita buat tante, oma, punya temen. Gila kan itu siomaynya enak banget gitu kan. Itu tahu baksonya enak banget, kok gak dijual sih.

So, actually it becomes empowering that kind of food-preneur. Mulai dari skala rumah-rumah tangga ya. Jadi sekarang hari ini kita punya kurang lebih 400 lebih hampir 500 ribu restaurant partner.  

Tapi total jumlah merchant-nya GoFood sekarang berapa?

Restoran itu basically, merchantnya GoFood. Jadi gitu totalnya. Mitra merchant-nya GoFood 96 persen adalah UMKM. Kalau total ekosistem daripada Gojek  selain GoFood yang close to 500 thousand merchant, mitra bisnis ini Gojek hampir 2 juta driver.

Jumlah transaksi?

Kita bisa disclose, sudah di atas 50 juta transaksi per bulan. GoFood aja.

4. Bagaimana peran perempuan dalam ekosistem Gojek khususnya GoFood?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekCatherine Hindra Sutjahyo (Chief Food Officer, Gojek Group) dalam acara Suara Millenial di kantor HQ IDN Media pada tanggal 28 November 2019 (IDN Times/Arief Kharisma Putra)

Jadi, dari segi merchant atau mitra restoran, perempuan tuh kayaknya hampir 70 persen, pemiliknya adalah perempuan kalau yang food. Tapi sebenarnya yang kalau kita lihat, bagaimana Gojek dan GoFood spesifiknya memberdayakan perempuan, itu bukan cuma dari sisi merchant. Banyak juga kita melihat itu pemberdayaan dari sisi customer juga.

Dalam arti, produk kita, kalau kita manggil GoFood itu kan produk. Bagaimana cara produk kita, mendesain fitur, apa kapabilitas dari produk itu untuk membantu perempuan. Contoh kemarin kita launching, itu namanya location picker

Jadi kalau di atas, temen-temen mau order GoFood kan bisa ganti alamat kalau di atas ya. Itu idenya karena gini, banyak ternyata Ibu-Ibu yang kerja, anaknya kan di rumah.

Anaknya pulang sekolah, kalau rumahnya jauh dari kantor. Sedangkan, kalau GoFood yang dulu, pada saat cari menu, cari merchant kan di sekitar kita doang. Makanya kita bisa mengubah lokasi di atas, lokasi rumah. Jadi bisa pesenin makanannya buat anak-anak di sana. Aku juga sering ordenin buat mamaku dari Surabaya. Dulunya gak bisa kan, harus di sekitar lokasi kita. Harus kita yang bayar atau pake GoPay. 

Itu kemarin kita promosi tuh, waktu kita launching Valentine's Day. Jadi kita bikin challenge, siapa yang order paling jauh. Yang paling jauh, ada yang pacaran, kirimin makanan pacarnya dari Jerman. So we do that kind of competition. 

Tapi kembali lagi, pemberdayaan kan di sana gitu kan. Kita kan juga ngerti, gak cuma Ibu, Bapak, kadang kalau kerja ngerasa kan gak punya enough time sama anaknya, they feel guilty or something. But providing good food, providing nutrition food buat anaknya gitu. Meskipun jauh dari kantor tiap siang. That’s something yang kita lihat juga sebagai pemberdayaan.

Baca Juga: 3 Fokus GoFood dalam Melayani Pelanggannya

5. Bagaimana sih proses inovasi dilakukan dalam Group Gojek?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekChief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahyo dalam acara Suara Millennial di kantor IDN Media HQ, Jakarta Selatan, Kamis 28 November 2019. (IDN Times/Arief Kharisma Putra)

Di GoJek itu, kita ada beberapa values. Beberapa values yang paling kental banget, yang nyambung dengan masalah inovasi adalah fast and fearless. Jadi kita adalah sama, similar to what I said earlier, fail fast, fail early. Fast fearless. Yang penting pada saat kita nyoba, coba dulu idenya segila mungkin, it’s okay

Tapi, selama itu dibatasin dengan measure-nya seperti apa, gimana ngukurnya. Harus berdasarkan data. The second value adalah become a scientist, dalam arti harus data. Meskipun kita bilang, karena kan sering nih, 'gila gue punya ide nih', terus temen bilang, 'oh iya keren banget keren banget', tapi ternyata pas dicoba, kok kayak gitu ya datanya..

At the end of the day, the data speaks gitu. Jadi kita harus bilang, ya udah kalau udah argue sama data, udah gak bisa tuh kita. Udah gak bisa pake feeling lagi. 'Tapi aku suka nih', gak bisa kayak gitu.

So I think the value, the culture, be shoot for greatness, and the another value, be fast and fearless, and become a scientist.

Jadi value itu gak bisa stand alone gitu. Jadi kita memberikan ruangan, mudah-mudahan everyone in the office, merasakan itu juga, dan they believe in that, kalau semua orang itu boleh membuat kesalahan.

Boleh membuat kesalahan, selama kita, misalkan ingin mengubah apa, ya jangan mengubah satu Indonesia lah ya setting-nya, tapi kita mencoba dulu kecil, pilot. So it’s the design of actuality of the design, itu yang sangat kental di culture-nya.

Apa ada khusus tim untuk inovasi atau basically inovasi ide itu bisa datang dari siapa saja di Gojek?

Semuanya, anyone, bottom up inovation, we believe in the bottom up. Berapa banyak sekarang timnya Gojek Group? The whole team? Kalau Gojek Group semuanya sekitar 5-6 ribu orang sampai hari ini, tapi itu seluruh Indonesia ya. Sebenarnya gak, seluruh Indonesia dan international. Termasuk Vietnam, Thailand, Singapore, dan Philippine. 

Kalau untuk GoFood?

Susah nih pertanyaannya, aku sering dapet pertanyaan kayak ini. Karena kalau kita bilang di Gojek itu ada organisasinya agak matriks gitu kan. Jadi kita ngomong product, GoRide, GoCar, GoFood, GoPay. Sama, ada function, sales function, finance.

Kalau mau dibilang, gimana ngitungnya ya? Apalagi kalau udah mulai ngomong, cut sama function gitu. So it’s a little bit difficult to answer the question.

Apa rencana pengembangan Gojek, khususnya GoFood dalam 6 bulan ke depan?

Ada cycle, jadi kita setahun itu menggunakan sistem OKR, Objective Key Result. Jadi setiap grup, setiap function, setiap itu kita pake OKR.

Terus tadi aku bilang, vertikal sama horizontal, kita punya yang namanya share KR, itu besarannya. Jadi kalau initiative untuk mencapai key result seperti apa, that’s where the innovation comes from. That’s where the freedom, the flexibility dari pada semua, bener-bener bottom-up, semuanya ada di sana.

6. Di Indonesia perempuan yang ada di level memimpin usaha berbasis teknologi belum banyak. Apa 3 hal yang jadi kunci sukses?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekCatherine Hindra Sutjahyo (Chief Food Officer, Gojek Group) dalam acara Suara Millenial di kantor HQ IDN Media pada tanggal 28 November 2019 (IDN Times/Arief Kharisma Putra)

Tiga poin susah juga ya, pertama, mungkin apa ya, the curiosity. Curiosity karena sering banget ditanyain pertanyaan ini sebenernya, 'oh gimana nih, cewek di technology, cewek di STEM, cewek di leadership' gitu kan.

Tapi I think, aku kalau boleh agak agak step back untuk mengkonfirmasi dan menjelaskan pada saat ditanyain. Karena kan I do a lot of women empowerement, untuk membantu apa namanya, lebih banyak participation of women di business di STEM, technology. 

Tapi satu hal yang selalu aku clarify adalah, kenapa kita berjuang untuk adanya perempuan lebih banyak di leadership di technology industry segala macem, sebenernya satu--which is aku seneng banget tadi keliling kantor IDN Media sama Mbak Uni tadi, ada semangat Diversity is Beautiful.

Itu tagline-nya IDN Times. Itu bener banget kenapa? Karena sebenarnya, begini, bukan masalah perempuannya, bukan masalah apa, it is a proud diversity at the end of the day. 

Karena berdasarkan research--kembali ke data gitu ya pastinya, kita lihat adalah pada saat ada kontribusi partisipasi wanita di leadership--ini kalau di research ini dia ngitungnya, management team atau board of director---di saat ada dua atau lebih perempuan, data mengatakan kalau performance dari pada board atau management team itu is better.

Tapi kalau ditanya kita, dig deeper supaya kita gak kegeeran dulu sebagai cewek. Bukan perempuannya tapi what the women bring pada saat ada diversity itu. Jadi ternyata pada saat ada pencampuran diversity itu antara apa namanya, pria dan wanita, pada saat kita approaching a problem ada issue ada diskusi atau cari ide itu karena pria-wanita angle berpikirnya approach-nya berbeda. 

Jadi bisa saling melengkapi, enriching the solution, enriching the approach, solusinya lebih baik. Having said that, berarti kan bukan cuma perempuan doang pastinya kita bilang diversity. Diversity juga ngomong mengenai macem-macem  gitu kan, social economic background, education, culture, age, segala macem, so I think what we are fighting. Supaya diperjelas aja, bukan perempuannya, but the diversity itself. Jadi itu sih.

Kedua adalah kita, pada saat kita menjadi minority harus diakui memang kita minority, I think self-pity doesn't help, to put it, karena kalau kita bilang "kayaknya gue diginiin gara gara  gue cewek deh" ya among friends, it is fine. Kadang kita suka bercanda. Tapi, pada di saat tempat kerja itu sendiri, itu yang harus kita kebelakangkan dulu. Karena pada saat kita berada di sana, kita harus menunjukan yes kita di sini on the level playground meritocracy. Jadi kita harus membuktikan itu there's no self pity.

Dan ketiga, play to your strength. I was taught this dulu lumayan lama, with one of my mentor. Dia bilang gini, "Cath lo kan tau lo kan cewek dan lo di bisnis yang jarang banget ceweknya. How do you use that to your strength? How do you use that as your calling card?" gitu kan maksudnya. Dengan caranya gimana?

We work--balik lagi di Gojek di Go-ood, yang location picker itu yang memunculkan ide adalah cewek. Karena apa karena dia mikir gue sebenernya butuh ini, that's why diversity kembali di pekerjaan di team. Bisa pesenin buat anak, buat orang tua. 

Kebayang ga kalau semuanya yang nge-plan orang nya sama persis profilnya. Kayak aku semua gitu gak ada produknya yang macem-macem. So in that sense, diversity is in every level, jadi balik ke situ ya aku rasa, play to your strength. 

7. Apa saja program yang dilakukan oleh Gojek atau GoFood yang berkaitan dengan women empowerement?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekChief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahyo dalam acara Suara Millennial di kantor IDN Media HQ, Jakarta Selatan, Kamis 28 November 2019. (IDN Times/Arief Kharisma Putra)

Ada beberapa. Jadi kalau kita memulai dengan women or diversity in that sense, jadi internally di Gojek juga ada campaign on the diversity, inclusion dan segala macem. Tapi kalau yang specific on the women, baru kayaknya last month ya.

We have a launching Gojek Accelerator, membantu startup baru, memberikan mereka pembekalan. Jadi waktu itu one week event--kita kerja sama dengan beberapa, dengan Simona Ventures, Digitaraya--waktu itu kita bikin accelerator program buat women founder. Yang terpilih waktu itu sekitar hampir 20 women, the one that is really interesting. Again the number kurang lebih ya yang aku inget.

Jadi itu kloter kedua, kloter pertama itu temanya beda itu kita dapet seribu lebih aplikasi pada saat kita mau membuka aplikasi buat women founder, itu applicant-nya cuman ga sampe 185 atau berapa. So in that sense, kita memilih itu sebagai salah satu area for our focus.

Kembali lagi, bukan perempuannya--ini aku selalu harus menekankan, tapi ketika perempuan menjadi founder mereka akan solve issue yang memang perlu untuk perempuan itu. Untuk membantu solving issue for working moms, solving issue for pendidikan anak-anak kecil seperti apa kayak gitu. 

Nah, saat berinteraksi dengan mereka itu, sebenarnya yang menjadi kendala buat mereka dalam berkembang adalah fear of failure. Makanya kembali ya pada saat aku bilang play to our strength at the same time recognize our weaknesses. Sometimes self doubt itu yang sering banget tuh, kalau keliatan karena kita sebagai founder gitu ya itu, that kind of fear of failure is still very thick. 

Kalau di Gojek, to be very honest, because conscious effort Gojek itu employees semua 40 percent are females, kalau  leadership kita ngomongnya ga board-board. Tapi kita apa, VP. And above 30 something percent are females. 

8. Untuk new comers yang mau membuat usaha, to create market online khususnya kuliner, bisa share gak, seperti apa approach-nya agar risiko failure-nya lebih kecil?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekIDN Times/Reza Iqbal

Jadi yang pertama itu bagaimana cara mengurangi resiko dalam memulai usaha baru terutama di kuliner begitu ya, kalau aku bilang semua usaha bukan cuma kuliner tapi terutama di kuliner--karena kuliner adalah salah satu usaha yang ga gampang. Kalau kita lihat persentase kuliner startup apa lagi restoran gitu ya, yang bisa bertahan melebihi satu tahun itu sebetulnya persentasenya gak terlalu tinggi, traditionally. 

Jadi itu yang aku tawarkan juga di platform GoFood, bukan karena aku Chief Food Officer Gojek tapi ini memang salah satu misi kita. Seperti yang aku bilang, banyak banget food-preneur food-preneur baru. Cara mereka nyobanya seperti itu dari rumah dulu deh. So I think, cara menggurangi resiko seperti itu, size. Jadi ga harus langsung gede gitu. 

Soalnya jadi pertama kita dari rumah eh kalau rumahnya dapurnya udah mentok baru sewa ruko sewa apa. Step by step. Dan yang paling penting mengurangi resiko itu, kembali lagi harus selalu melihat peka terhadap balikan, feedback dari customers. Misalkan kita bilang ini enak banget, keluarga aku doyan banget gitu kan, ternyata di luar bilang feedback-nya, kepedesan, gak enak misalnya.

Jadi itu customer itu penting, customer itu raja, Nicholas selalu bilang kayak begitu ya. Feedback itu penting. Feedback itu yang harus kita lihat dan keep tweaking, trademark, start small, continue to iterate change, adapt. Itu yang pertama .

Ada pertanyaan juga soal perbedaannya online dan offline, keuntungannya?

GoFood itu apalagi kalau sama restoran dia bilang gini atau ke depot atau warung. Bu kalau saya join GoFood nanti bisnis saya turun dong, yang dari offline karena diganti online. Sebenarnya enggak, tadi pertanyaan pertama itu, karena gini, kembali lagi ke visi misi dari Gojek. Kita memberdayakan, hidup orang orang sehari hari.

Artinya apa, banyak sekali orang di perkotaan, Indonesia bukan hanya Jakarta, kota-kota semuanya itu orang bekerja gitu kan. Jadi pada saat, kadang suka dibecandaain nih aku, 'kamu itu ngajarin orang  gak masak yah, ngajarin orang gak masak di rumah', enggak, that's a choice.  What we are giving is a choice.

Kebanyakan justru Go-food itu menggantikan orang yang makan siang di kantor daripada keluar, lebih produktif di kantor berapa kali, kita harus meeting in between meeting. Atau di rumah menggantikan masak, tapi karena apa, supaya ibunya atau bapaknya bisa spend time yang lebih produktif sama anaknya, bantuin anaknya bikin PR atau having a family time maksudnya, bukan berarti pas weekend gak masak bareng atau apa.

Tapi what we are providing here are choices jadi aku bilang online, offline beda memang misinya. Offline maybe more of celebration of family gathering, online more of convinience gitu ya. What we are providing here choices. Dan yang paling penting bisnis kita atau peran kita itu adalah memberdayakan usaha usaha kecil. Ini memberikan mereka avenue to flow as a business.

9. Go-Jek ini ingin dilihat sebagai perusahaan apa?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekIDN Times/Helmi Shemi

In the end of the day, kita adalah yang dilihatnya daripada Gojek, kita itu pemberdayaan itu, social impact itu. Pemberdayaan dimulai dari driver. Waktu kita mulai, itu yang kita pikir, itu yang kita berdayakan terutama ada driver.

Terus, waktu kita mulai GoFood, ternyata kita bisa memberdayakan usaha usaha kecil at the scale juga gitu kan, kita bisa memberdayakan juga yang lain. 

I think kita selalu mencari, bagaimana yang sangat Indonesia atau sangat South East Asia, sangat Asia Tenggara. Sangat Indonesia, solusinya. Makanya kalau ditanya, Gojek itu kayak apa sih? Susah ngejawabnya. Karena kita itu melihat ada apa sih pain pinched-nya di tempat kita asal kita ini, kita solve berdasarkan itu.

Jadi bukan kayak, mengambil contoh dari mananya karena what we are trying to solve adalah isu yang sangat spesifik ke Indonesia, dan ternyata pada saat kita ekspansi ke Vietnam, Thailand isunya mirip karena kita sebagai negara serumpun ya. Asia Tenggara itu. 

9. Apa sih north star matrix Go-Food? Berapa kontribusi GoFood ke Gojek Group?

Wawancara Eksklusif Catherine Hindra Sutjahyo-Chief Food Officer GojekChief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahyo dalam acara Suara Millennial di kantor IDN Media HQ, Jakarta Selatan, Kamis 28 November 2019. (IDN Times/Arief Kharisma Putra)

Yang pertama mengenai, where we are lalu ke depannya apalagi fokus kita. This is, satu angka yang pengen aku share. Karena sering banget yang nanya ini, 'eh Cath kan GoFood udah gede banget nih, kita udah partner besar di Asia Tenggara, we are in world class play as well GoFood'. Tapi sebenernya satu angka sangat sangat yang menarik, kalau kita bilang food delivery itu yang paling besar di dunia itu China.

Jadi kita menggunakan metrik penetrasi dari food delivery as a percentage of total food consumption. Karena kan di sana (China) orang bisa makan, seperti kita, bisa masak, bisa delivery, bisa makan di restoran bisa bungkus, bisa segala macem. Itu different mode-nya kita bandingkan di sana. Jadi angka itu kalau kita bandingkan, top-nya itu di dunia, paling besar adalah di China angka itu 13 sampai 15 persen.

Pada saat kita apply di Indonesia, gak usah ngomongin Vietnam dan Thailand karena start-nya di belakang Indonesia. Indonesia lebih duluan mulainya masih di bawah 2 persen. Sekitar 1,1 something persen per hari ini, yang kita berikan pilihan tapi kalau berdasarkan kalau kita melihat, demographic, habis itu the growth, kalau dibilang dual income family, dua-duanya bekerja kemudian becoming very busy, becoming traffic jam situation, kita percaya.

Kalau kita bandingin gak sampe 2 persen sama 13 persen masih jauh banget. And we believe that the growth is still there. Jadi what we are seeing adalah tugas kita, kita gak bisa berhenti, meskipun kita udah 200 lebih kota, tapi kan memang penetrasinya beda-beda, di setiap kota. 

So, our job becoming again, giving an option, giving a choice, to as many people as possible to make their life easier. Kalau Gojek kan pasti ada jalan, gitu kan. To help people lebih convenient hidupnya sehari-hari, jadi lebih nyaman. Itu sih, in that sense, memang fokusnya masih "The Growth itu sendiri" untuk menjawab pertanyaannya.

Yang kedua, memang GoFood itu salah satu pillar yang terbesarnya Gojek, unfortunately angka aku gak bisa share, seperti biasa in detail, tapi memang GoFood salah satu growth-nya, besar. 

Apa menu yang paling banyak dipesan di Go-Food? 

Nasi Ayam hehehe. Kan banyak macam ayam.

Laporan by: Qilan Umara

 

Baca artikel menarik lainnya di IDN Times App, unduh di sini http://onelink.to/s2mwkb

Baca Juga: Catherine Hindra Sutjahyo, Perempuan Hebat di Balik GoFood

https://www.youtube.com/embed/rj_Y1tNPFPM

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya