Comscore Tracker

Cerita Juragan Millennial Buka Jasa Titip Sembelih Hewan Kurban

Layanan titip sembelih baru ada di Idul Adha tahun ini

Jakarta, IDN Times - Idul Adha 1442 Hijriyah dihiasi dengan cara baru menyembelih hewan kurban. Kini ada sistem titip sembelih yang ditawarkan para pedagang hewan kurban untuk masyarakat yang ingin berkurban di tengah kebijakan PPKM Darurat.

Salah satu pedagang hewan kurban yang menawarkan layanan itu adalah Alfan Anugerah (27). Pedagang hewan kurban yang termasuk generasi millennial itu baru membuka layanan titip sembelih tahun ini. Meski begitu, dia mengatakan layanan titip sembelih ini belum banyak diketahui orang.

"Iya buka tahun ini, kalau tahun lalu gak ada. Jadi tahun ini ada titip sembelih.  Ada konsumen saya, tapi gak banyak. Sekarang yang titip sembelih hanya 7 ekor," kata Alfan kepada IDN Times, Senin (19/7/2021).

Baca Juga: Idul Adha di Masa PPKM Darurat, Berkurban di Tengah Keterbatasan

1. Layanan dalam sistem titip sembelih

Cerita Juragan Millennial Buka Jasa Titip Sembelih Hewan KurbanPenjualan hewan kurban di tengah PPKM Darurat (Dok. Barokah Farm)

Layanan titip sembelih itu maksudnya sang pedagang yang mengatur jalan penyembelihan hewan yang dibeli konsumen. Alfan mengatakan ketika konsumennya sudah membeli hewan kurban, dialah yang akan mengantarkan hewan itu ke masjid.

Lalu, setelah hewan disembelih, dua per tiga bagian dari hewan kurban tersebut diberikan ke masjid tersebut. Sementara, sepertiga bagiannya dikirim ke konsumen oleh Alfan.

"Saya taruh kambing ke DKM (Dewan Kemakmuran Masjid), kita bilang ke panitia Idul Adha masjid tersebut kalau konsumen saya minta bagiannya, kalau Idul Adha kan maksimum 1/3 bagian yang boleh diambil. Nanti dikasih ke saya, lalu saya yang distribusikan ke konsumennya," tutur Alfan.

Setelah menerima bagian milik konsumen, Alfan membekukan daging itu di mesin pendingin (freezer), baru kemudian mengirimkan ke konsumen.

"Kalau kurban kan maksimal diambil sepertiganya, nah dua per tiganya itu disalurkan ke DKM. Yang dikirim ke pembeli dimasukkan ke freezer saya dulu, sampai beku, besoknya saya kirim. Biaya tambahan hanya untuk ongkos kirim, Rp75 ribu," ujar dia.

2. Mayoritas konsumen masih meminta dikirim hewan hidup

Cerita Juragan Millennial Buka Jasa Titip Sembelih Hewan KurbanPenjualan hewan kurban di tengah PPKM Darurat (Dok. Barokah Farm)

Alfan mengatakan sebagian besar konsumennya masih meminta dikirim hewan hidup. Dia menjual hewan kurban secara online melalui Instagram @barokahfarm.id dan situs web Barokahfarmaqiqah.com, yang dikirim langsung dari peternakannya di Kabupaten Bogor. Alfan mengatakan dia tidak membuka lapak hewan kurban di pinggir jalan seperti pedagang lain.

"Penjualannya saya mayoritas online. Jarang orang datang memilih kambing. Saya sistemnya terima beres. Jadi kita foto satu-satu, kelengkapannya bagaimana, kita kirim ke konsumen lewat Google Drive. Lalu mereka bebas mau dikirim ke mana saja domba atau kambingnya. Jadi gak perlu ada kerumunan," ucap Alfan.

3. Jatuh-bangun juragan millennial merintis bisnis hewan kurban

Cerita Juragan Millennial Buka Jasa Titip Sembelih Hewan KurbanPenjualan hewan kurban di tengah PPKM Darurat, (Dok. Barokah Farm)

Alfan merintis bisnis hewan kurban sejak 2014. Kala itu dirinya masih seorang mahasiswa jurusan agribisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB). Alfan mengaku, 3 tahun pertama merintis bisnis, dia selalu merugi, bahkan sering kali mengalami penipuan.

"Namanya usaha gak gampang ya, jadi saya 3 tahun awal selalu rugi, karena saya juga masih mengatur waktu antara kuliah dan usaha ini. Saya kerugiannya dari penipuan pernah, dicuri, ditipu juga pernah. Paling parah sih mortalitas atau kematian domba dan kambingnya tinggi," kata Alfan.

Memasuki 2017, Alfan mengembangkan bisnisnya dengan membuka layanan aqiqah dan katering olahan daging domba serta kambing. Sampai di 2019, dirinya masih menjual hewan kurban. 

"5 tahun pertama fokusnya Idul Adha. Nah saya belum dapat celahnya, sering rugi. Jadi saya perkembangan usahanya lebih ke bisnis aqiqah dan katering olahan kambing dan domba. Di situ saya lumayan kencang," ujar dia.

4. Beralih fokus bisnis ke penyembelihan untuk aqiqah

Cerita Juragan Millennial Buka Jasa Titip Sembelih Hewan KurbanANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Lalu, di tahun 2020 dia menetapkan fokus bisnisnya adalah aqiqah dan katering. Dia pun tetap menjual hewan kurban, namun dengan skema kerja sama. Alfan mengaku dirinya kewalahan apabila melayani penjualan hewan kurban sendirian.

"Setelah tahun 2019 karena permintaan aqiqah tinggi, dan untuk kurban gak kepegang, akhirnya saya kerja sama. Jadi saya beli kambing, titip di kandang dia, lalu dijual untuk kurban," kata dia.

Selain itu, permintaan hewan untuk aqiqah dan Idul Adha juga berbeda.

"Nah aqiqah ini 95 persen permintaannya domba betina. Kalau kurban kan jantan. Jadi daripada mengganggu bisnis yang aqiqah, saya kerja sama dengan teman," ucap Alfan.

Alfan mengatakan sebelum ada pandemik COVID-19 dirinya bisa memotong di atas 200 ekor kambing dan domba setiap bulannya.

Baca Juga: Jokowi Tunaikan Salat Idul Adha di Halaman Istana Bogor

5. Dampak pandemik COVID-19 dan PPKM Darurat pada bisnis

Cerita Juragan Millennial Buka Jasa Titip Sembelih Hewan KurbanPenjualan hewan kurban di tengah PPKM Darurat, (Dok. Barokah Farm)

Alfan mengaku pandemik COVID-19 telah menurunkan penjualan bulanannya. Apalagi ketika ada PSBB ketat di tahun 2020, dan PPKM Darurat saat ini.

"Sebelum pandemik saya bisa di atas 200 ekor dalam 1 bulan. Setelah pandemik biasanya di bawah 200 ekor. Apalagi kalau PSBB ketat, PPKM Darurat ini terasa sekali. Karena kalau aqiqah kan biasanya orang-orang menggelar acara. Karena PPKM Darurat gak boleh, otomatis terdampak," kata Alfan.

Selain itu, penjualan hewan kurbannya juga terdampak. Di tahun 2020, dia masih bisa menjual 115 ekor hewan kurban. Namun, di 2021 ini dikarenakan Idul Adha bertepatan dengan PPKM Darurat, penjualannya hanya 94 ekor, dengan omzet sekitar Rp300 juta.

"Kalau kurban 2020 gak terlalu berat, karena masih bisa kumpul. Nah 2021 ini yang ada pengetatan, otomatis turun dibanding tahun lalu, sekitar 10-20 persen penurunannya. Apalagi kan kondisi sekarang daya beli masyarakat rendah, banyak yang PHK, jadi belum stabil daya beli masyarakat," tutur dia.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya