Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Hindari Jebakan Dividen saat Memburu Passive Income Saham

5 min read
5 Cara Hindari Jebakan Dividen saat Memburu Passive Income Saham
ilustrasi investasi, saham, dividen, pasar saham (vecteezy.com/Anatolii Cherkas)
  • Dividend yield tinggi tidak selalu aman; angka tersebut bisa melonjak karena harga saham turun akibat kekhawatiran pasar terhadap prospek dan kondisi bisnis perusahaan.
  • Investor perlu menilai laba, arus kas, dividend cover, utang, kas, serta kebutuhan modal untuk memastikan pembayaran dividen didukung keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
  • Dividen tidak menjamin keuntungan total karena harga saham dapat turun; perhatikan siklus bisnis, risiko pasar, dan diversifikasi portofolio, bukan hanya mengejar yield tertinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memburu passive income dari saham dividen memang terdengar menarik karena kamu bisa memperoleh pemasukan dari kepemilikan saham. Salah satu angka yang paling sering diperhatikan investor adalah dividend yield karena menunjukkan seberapa besar dividen dibandingkan harga saham.

Namun, mengejar saham dengan yield paling tinggi justru bisa membuatmu terjebak pada investasi yang risikonya lebih besar, lho. Yield tinggi kadang muncul karena perusahaan memang memberikan dividen besar, tapi bisa juga terjadi karena harga sahamnya sedang jatuh akibat kekhawatiran terhadap kondisi bisnis. Karena itu, kamu perlu melihat lebih banyak aspek sebelum memasukkan saham berdividen tinggi ke dalam portofolio.

Sebelum memilih saham dengan dividen tinggi, ada beberapa hal penting yang perlu kamu cek agar passive income yang diharapkan gak berubah menjadi sumber kerugian.

  1. 1. Jangan hanya terpaku pada dividend yield

    ilustrasi investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif
    ilustrasi investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif (vecteezy.com/Akarapong Chairean)

    Dividend yield memang bisa menjadi indikator awal ketika kamu mencari saham untuk passive income. Secara sederhana, angka tersebut membandingkan dividen yang dibayarkan perusahaan dengan harga sahamnya. Semakin tinggi yield, semakin besar potensi pendapatan dividen dibandingkan modal yang kamu keluarkan. Masalahnya, angka tersebut gak otomatis menunjukkan bahwa dividen perusahaan aman atau akan terus bertahan.

    Harga saham yang merosot cukup tajam juga bisa membuat dividend yield terlihat sangat tinggi. Kondisi tersebut dapat terjadi karena pasar mulai meragukan prospek bisnis atau kemampuan perusahaan mempertahankan kinerjanya. Jadi, ketika menemukan saham dengan yield yang menggiurkan, jangan langsung menganggapnya sebagai peluang tanpa risiko, ya. Coba cari tahu terlebih dahulu alasan di balik tingginya yield tersebut dan bagaimana kondisi bisnis perusahaan.

  2. 2. Periksa kemampuan perusahaan membayar dividen

    ilustrasi laporan keuangan, finance report, financial report
    ilustrasi laporan keuangan, finance report, financial report (vecteezy.com/Sirichai Puangsuwan)

    Salah satu hal penting yang perlu kamu perhatikan adalah dividend cover atau kemampuan laba perusahaan dalam menopang pembayaran dividennya. Perusahaan memang bisa terlihat menarik karena rajin membagikan dividen, tapi pembayaran tersebut tetap perlu didukung oleh kinerja keuangan yang memadai. Jika laba melemah sementara dividen tetap tinggi, perusahaan bisa menghadapi tekanan untuk mempertahankan pembayarannya. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan tersebut bahkan dapat membuat perusahaan menggunakan kas atau menambah utang.

    Karena itu, jangan berhenti pada informasi mengenai nominal dividen saja, ya. Perhatikan hubungan antara laba, arus kas, pembayaran dividen, serta kebutuhan modal perusahaan. Kinerja laba yang meningkat memang bisa menjadi sinyal positif, tapi belum berarti pembayaran dividen pasti aman untuk jangka panjang. Semakin sehat kemampuan perusahaan menghasilkan uang untuk membiayai operasional dan dividennya, semakin mudah kamu menilai keberlanjutan passive income tersebut.

  3. 3. Lihat kondisi bisnis dan siklus industrinya

    ilustrasi investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif
    ilustrasi investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif (vecteezy.com/Asih Wahyuni)

    Perusahaan dengan kinerja bagus dalam satu periode belum tentu menghadapi kondisi serupa pada periode berikutnya. Bisnis tertentu sangat dipengaruhi oleh suku bunga, kondisi pasar, tingkat persaingan, sampai perubahan permintaan terhadap produk atau layanan. Perusahaan sektor keuangan, misalnya, dapat menghadapi perubahan kondisi bisnis ketika lingkungan suku bunga dan permintaan terhadap produk finansial berubah. Artinya, hasil positif terbaru tetap perlu dilihat dalam konteks bisnis secara keseluruhan.

    Contohnya bisa dilihat dari Legal & General, perusahaan jasa keuangan asal Inggris yang bergerak di berbagai bidang, seperti solusi pensiun, asuransi, dan manajemen aset. Dalam laporan paruh pertama 2026, laba operasi inti perusahaan meningkat 7 persen menjadi £918 juta atau sekitar Rp21,9 triliun. Laba operasi inti per saham juga naik 11 persen menjadi 12,15 pence atau sekitar Rp2.896 per saham.

    Perusahaan tersebut juga menaikkan dividen interim 2026 sebesar 2 persen, dari 6,12 pence menjadi 6,24 pence per saham. Jika dikonversikan, angka tersebut masing-masing sekitar Rp1.459 dan Rp1.487 per saham. Kenaikan dividen memang dapat terlihat menarik bagi investor yang mengejar passive income, tapi kondisi tersebut tetap gak menghilangkan risiko yang berasal dari perubahan siklus bisnis dan kondisi pasar.

  4. 4. Jangan lupa mengecek neraca dan arus kas

    Ilustrasi menghitung uang
    Ilustrasi menghitung uang (Pexels.com/tima miroshnichenko)

    Dividen pada akhirnya membutuhkan uang tunai, sehingga kondisi neraca perusahaan juga penting untuk diperhatikan. Kamu perlu melihat apakah perusahaan mempunyai posisi keuangan yang cukup kuat untuk menjalankan bisnis sekaligus memenuhi kewajiban kepada pemegang saham. Utang, kas, kebutuhan modal, dan kemampuan menghasilkan arus kas bisa memberikan gambaran lebih lengkap dibandingkan sekadar melihat besarnya dividend yield. Pemeriksaan ini dapat membantumu memahami apakah dividen benar-benar ditopang oleh kondisi keuangan perusahaan.

    Kamu juga perlu memperhatikan kekuatan neraca, tren laba, dividend cover, dan valuasi sebelum mengambil keputusan investasi. Perusahaan mungkin masih mampu membayar dividen ketika kinerjanya mulai melemah, tapi kondisi tersebut belum tentu bisa dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, jangan menganggap pembayaran dividen sebelumnya sebagai jaminan bahwa perusahaan akan terus memberikan nominal serupa pada periode berikutnya. Ada perbedaan antara perusahaan yang mampu membayar dividen dan perusahaan yang mampu mempertahankan pembayarannya secara berkelanjutan.

  5. 5. Pertimbangkan risiko harga saham

    ilustrasi laporan keuangan, finance report, financial report, investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif, analisis
    ilustrasi laporan keuangan, finance report, financial report, investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif, analisis (vecteezy.com/Tatyana Makarova)

    Passive income dari dividen tetap gak bisa dipisahkan dari pergerakan harga saham. Misalnya, sebuah saham memberikan dividend yield 7 persen,etapi harga saham kemudian turun 7 persen. Secara sederhana, penurunan harga tersebut sudah dapat menghapus keuntungan dari dividen sebelum memperhitungkan pajak dan faktor lainnya. Jadi, memperoleh dividen gak otomatis berarti investasi kamu menghasilkan keuntungan secara keseluruhan, lho.

    Di sinilah pentingnya membangun portofolio yang terdiversifikasi dan gak hanya mengejar saham dengan yield terbesar. Saham dengan yield lebih rendah tapi pertumbuhan dividen lebih stabil dan harga yang relatif lebih tahan terhadap tekanan bisa memberikan hasil berbeda dalam jangka panjang. Diversifikasi dapat membantu mengurangi dampak apabila salah satu sektor atau perusahaan mengalami masalah. Pada akhirnya, passive income yang sehat lebih berkaitan dengan keberlanjutan pembayaran daripada sekadar mencari angka yield paling tinggi.

    Mengejar passive income melalui saham dividen membutuhkan cara pandang yang lebih luas daripada sekadar mencari dividend yield terbesar. Kamu perlu melihat kemampuan perusahaan membayar dividen, kondisi bisnis, kekuatan neraca, tren laba, arus kas, hingga risiko penurunan harga saham.

    Dividen yang terlihat besar memang menarik, tapi tetap perlu diperiksa apakah pembayarannya ditopang oleh bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dengan memahami berbagai faktor tersebut, kamu bisa lebih hati-hati membedakan peluang pendapatan dari potensi dividend trap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More