Jakarta, IDN Times - Transformasi digital telah membuat berbagai aktivitas perbankan semakin mudah dilakukan, mulai dari membuka rekening, melakukan transfer, hingga membayar kebutuhan sehari hari melalui mobile banking. Namun, semakin terhubungnya layanan keuangan digital juga membuka lebih banyak titik yang dapat menjadi sasaran serangan siber.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, meningkat 714 persen dibandingkan rata rata tahunan selama periode 2020 hingga 2024. Tingginya ancaman tersebut berlanjut pada 2026, dengan 1,52 miliar serangan siber tercatat pada 1 Januari hingga 15 April 2026.
Pada saat yang sama, biaya yang ditimbulkan akibat kebocoran data juga meningkat. IBM Cost of a Data Breach Report 2026 menemukan rata-rata biaya kebocoran data di ASEAN mencapai 4,12 juta dolar AS, naik 12 persen dari 3,67 juta dolar AS pada tahun sebelumnya. Sektor jasa keuangan mencatat biaya tertinggi di kawasan, yakni rata-rata 6,53 juta dolar AS per insiden.
Perkembangan artificial intelligence (AI) turut menambah kompleksitas lanskap ancaman tersebut. Secara global, serangan yang memanfaatkan AI dapat menambah rata-rata sekitar 1 juta dolar AS terhadap biaya sebuah insiden kebocoran data dibandingkan serangan pada umumnya.
“Dengan AI, pelaku ancaman dapat bergerak lebih cepat dan melancarkan serangan dalam skala yang lebih luas, sehingga organisasi harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mengidentifikasi dan menangani sistem yang terdampak,” jelas IBM Security Expert, Chris Hockings.
Pelaku ancaman kini dapat memanfaatkan AI untuk membuat deepfake, pesan phishing, perangkat lunak berbahaya, mengotomatisasi pemindaian kerentanan, hingga mempercepat pergerakan di dalam jaringan.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan industri perbankan dalam menghadapi perubahan lanskap ancaman tersebut.
