Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Alasan Investasi Jangka Panjang Tidak Selalu Berjalan Mulus

4 min read
3 Alasan Investasi Jangka Panjang Tidak Selalu Berjalan Mulus
ilustrasi trading (Pexels.com/Kampus Production)
  • Investasi jangka panjang tetap menghadapi volatilitas; penurunan pasar dapat menggerus portofolio sementara dan memicu keputusan emosional, meski investor masih memiliki waktu mencapai tujuan.
  • Aset atau perusahaan yang kuat saat ini bisa melemah akibat perubahan teknologi, persaingan, dan permintaan. Investor perlu mengevaluasi fundamental, tujuan, alokasi aset, serta toleransi risiko secara berkala.
  • Return nominal dapat tergerus biaya investasi dan inflasi. Investor perlu mempertimbangkan real return, menjaga diversifikasi, mengelola risiko, serta menyiapkan rencana menghadapi perubahan pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Investasi jangka panjang sering dianggap sebagai salah satu cara untuk membangun kekayaan. Logikanya, semakin lama uang diinvestasikan, semakin banyak waktu yang tersedia untuk memanfaatkan pertumbuhan dan compound return. Namun, investasi jangka panjang bukan berarti perjalanan investasinya akan selalu mulus.

Harga aset tetap bisa naik-turun. Kondisi ekonomi dapat berubah. Perusahaan bisa mengalami masalah. Bahkan, biaya investasi yang terlihat kecil dapat menggerus hasil dalam jangka panjang.

Semua investasi memiliki risiko dan pasar dapat mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Jangka waktu yang panjang memang memberikan kesempatan bagi investor untuk menghadapi gejolak pasar, tetapi tidak menghilangkan risiko investasi. Lantas, mengapa investasi jangka panjang tidak selalu berjalan mulus?

  1. 1. Pasar tetap bisa jatuh meski tujuan investasinya masih jauh

    ilustrasi trading (Pexels.com/Kampus Production)
    ilustrasi trading (Pexels.com/Kampus Production)

    Salah satu kesalahpahaman tentang investasi jangka panjang adalah menganggap waktu akan otomatis menyelesaikan semua masalah. Padahal, investor tetap bisa mengalami penurunan nilai portofolio di tengah perjalanan. Misalnya, seseorang berinvestasi untuk tujuan 20 tahun mendatang. Pada tahun kelima, pasar mengalami penurunan tajam. Nilai portofolionya ikut merosot.

    Apakah investasi tersebut otomatis gagal? Belum tentu. Investor masih memiliki waktu yang panjang sebelum membutuhkan uangnya. Namun, kondisi tersebut tetap bisa menjadi ujian psikologis. Melihat nilai investasi turun puluhan persen dapat membuat investor panik dan tergoda menjual aset pada saat harga sedang rendah.

    Volatility risk merupakan risiko ketika harga investasi berfluktuasi naik dan turun. Harga saham, misalnya, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi perusahaan hingga peristiwa ekonomi dan politik yang berada di luar kendali perusahaan. Karena itu, investasi jangka panjang bukan berarti investor tidak akan mengalami kerugian sementara.

    Justru, salah satu tantangan investasi jangka panjang adalah bertahan melewati periode ketika portofolio terlihat buruk. Diversifikasi dapat membantu mengurangi dampak tersebut. Namun, diversifikasi juga bukan jaminan bahwa portofolio tidak akan turun. Saat pasar secara keseluruhan mengalami tekanan, portofolio yang terdiversifikasi tetap bisa mengalami penurunan.

  2. 2. Aset yang bagus hari ini belum tentu tetap bagus puluhan tahun lagi

    ilustrasi logam mulia (Pexels.com/Michael Steinberg)
    ilustrasi logam mulia (Pexels.com/Michael Steinberg)

    Investasi jangka panjang juga menghadapi persoalan lain, yakni dunia yang terus berubah. Sebuah perusahaan yang sangat kuat saat ini bisa kehilangan keunggulannya beberapa tahun kemudian. Teknologi baru dapat menggantikan produk lama. Selera konsumen berubah dan kompetitor baru bermunculan.

    Karena itu, membeli aset yang terlihat bagus hari ini lalu melupakannya selama 20 tahun bukan selalu strategi yang aman. Harga saham dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk efektivitas manajemen perusahaan, kekuatan produk, permintaan konsumen, perubahan ekonomi, biaya tenaga kerja dan rantai pasok, serta perubahan preferensi investor. Jika investor hanya berpegang pada alasan awal ketika membeli saham tersebut tanpa mengevaluasi kembali kondisi bisnisnya, strategi hold untuk jangka panjang bisa berubah menjadi mempertahankan aset yang fundamentalnya sudah memburuk.

    Ini merupakan perbedaan penting antara investasi jangka panjang dan membeli lalu tidak pernah mengevaluasi lagi. Investasi jangka panjang tetap membutuhkan evaluasi. Investor perlu melihat apakah aset yang dimiliki masih sesuai dengan tujuan, risiko, dan kondisi fundamentalnya.

    Alokasi aset juga dapat berubah seiring waktu karena kebutuhan dan toleransi risiko investor berubah. Komposisi aset yang sesuai dapat berbeda pada berbagai tahap kehidupan, tergantung jangka waktu investasi dan toleransi risiko. Dengan kata lain, menjadi investor jangka panjang bukan berarti harus bertahan dengan satu aset selamanya. Yang dipertahankan adalah tujuan investasinya, bukan selalu aset yang sama.

  3. 3. Biaya dan inflasi bisa diam-diam menggerus hasil investasi

    ilustrasi investasi (Pexels.com/Leeloo The First)
    ilustrasi investasi (Pexels.com/Leeloo The First)

    Ada satu hal yang sering tidak terlihat dari grafik harga, yakni berapa besar keuntungan yang benar-benar tersisa setelah biaya dan memperhitungkan inflasi. Misalnya, investasi menghasilkan return 7 persen setahun. Angka tersebut terlihat menarik, tetapi investor masih perlu memperhitungkan biaya investasi. Jika terdapat berbagai biaya yang mengurangi return, hasil bersih yang diterima tentu lebih kecil. Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat nominal return, tetapi juga mempertimbangkan real return, yaitu hasil investasi setelah memperhitungkan dampak inflasi.

    Investasi jangka panjang memang memiliki keunggulan berupa waktu. Semakin panjang jangka waktu, semakin besar kesempatan investor memanfaatkan pertumbuhan majemuk dan melewati berbagai siklus pasar. Namun, perjalanan tersebut tetap dapat diwarnai penurunan harga, perubahan kondisi ekonomi, perubahan fundamental perusahaan, biaya, dan inflasi. Oleh sebab itu, investor perlu memiliki rencana untuk menghadapi volatilitas pasar, menjaga diversifikasi, mengelola risiko, dan menghindari keputusan emosional saat kondisi pasar berubah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More