Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Hal yang Perlu Dipahami sebelum Mulai Investasi, Jangan Asal!

4 min read
4 Hal yang Perlu Dipahami sebelum Mulai Investasi, Jangan Asal!
ilustrasi investasi (Pexels.com/DΛVΞ GΛRCIΛ)
  • Investor perlu menetapkan tujuan keuangan, waktu penggunaan dana, dan target imbal hasil agar strategi serta pilihan instrumen sesuai kebutuhan.
  • Potensi return selalu sejalan dengan risiko; pilihan investasi harus mempertimbangkan toleransi terhadap kerugian dan jangka waktu, bukan sekadar mengikuti keuntungan orang lain.
  • Sebelum membeli, pahami cara kerja produk, risiko, likuiditas, dan biayanya; diversifikasi portofolio juga diperlukan agar risiko tidak bertumpu pada satu aset.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Investasi kini semakin mudah dilakukan. Hanya berbekal smartphone, seseorang bisa membeli saham, reksa dana, obligasi, emas, atau berbagai instrumen investasi lainnya. Namun, kemudahan tersebut bukan berarti investasi selalu aman.

Setiap instrumen memiliki karakteristik, potensi keuntungan, biaya, dan risiko yang berbeda. Bahkan, uang yang diinvestasikan bisa mengalami penurunan nilai atau hilang sebagian jika investor tidak memahami risikonya. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, dan toleransi risiko masing-masing. Sebelum mulai investasi, setidaknya ada empat hal yang perlu dipahami.

  1. 1. Tentukan tujuan dan jangka waktu investasi

    ilustrasi investasi (Pexels.com/Bram van Oosterhout)
    ilustrasi investasi (Pexels.com/Bram van Oosterhout)

    Kesalahan yang cukup umum dilakukan investor pemula adalah mulai membeli aset sebelum mengetahui sebenarnya uang tersebut akan digunakan untuk apa. Padahal, tujuan investasi akan menentukan strategi yang digunakan. Menabung untuk membeli rumah lima tahun lagi tentu berbeda dengan berinvestasi untuk dana pensiun 25 tahun mendatang. Begitu juga dengan uang yang akan digunakan untuk biaya pendidikan anak beberapa tahun lagi.

    Investor sebaiknya menentukan tujuan keuangan dan berapa lama waktu yang tersedia untuk mencapainya. Jangka waktu tersebut kemudian membantu menentukan pilihan investasi yang sesuai. Misalnya, seseorang membutuhkan uang dalam waktu enam bulan. Menempatkan seluruh dana tersebut pada aset yang harganya sangat fluktuatif bisa menjadi masalah. Jika pasar sedang turun ketika uang dibutuhkan, investor mungkin terpaksa menjual aset dalam kondisi rugi.

    Sebaliknya, seseorang yang memiliki tujuan jangka panjang mungkin mempunyai ruang lebih besar untuk menghadapi naik-turunnya harga aset. Karena itu, sebelum memilih produk investasi, pastikan tiga hal terlebih dahulu. Di antaranya alasan penggunaan uang, kapan uang akan digunakan, dan target imbal hasil yang ingin dicapai. Jangan sampai investasi justru membuat tujuan keuangan menjadi lebih sulit dicapai.

  2. 2. Pahami bahwa return selalu datang bersama risiko

    ilustrasi rupiah (Pexels.com/Defrino Maasy)
    ilustrasi rupiah (Pexels.com/Defrino Maasy)

    Salah satu prinsip paling penting dalam investasi adalah tidak ada keuntungan tinggi yang benar-benar gratis dari risiko. Semakin besar potensi keuntungan suatu investasi, biasanya semakin besar pula risiko yang perlu dipertimbangkan. Karena itu, investor jangan hanya bertanya berapa return yang bisa didapatkan, melainkan juga berapa besar kerugian yang sanggup ditanggung.

    Misalnya, seseorang tidak nyaman melihat nilai investasinya turun 20 persen. Jika demikian, memilih aset yang sangat volatil hanya karena mengejar potensi keuntungan besar mungkin membuatnya panik dan menjual pada waktu yang salah. Selain toleransi risiko, investor juga perlu memahami time horizon atau jangka waktu investasi. Investor dengan jangka waktu lebih panjang umumnya memiliki lebih banyak waktu untuk menghadapi fluktuasi pasar dibandingkan orang yang membutuhkan uang dalam waktu dekat.

    Jadi, jangan memilih investasi hanya karena orang lain mendapatkan keuntungan besar darinya. Bisa jadi instrumen tersebut cocok untuk orang lain, tetapi tidak cocok dengan kondisi keuangan dan toleransi risiko kita.

  3. 3. Kenali produk investasi sebelum membeli

    ilustrasi investasi (Pexels.com/RDNE Stock project)
    ilustrasi investasi (Pexels.com/RDNE Stock project)

    Investasi bukan hanya saham. Ada berbagai produk dengan karakteristik berbeda, mulai dari saham, obligasi, reksa dana, ETF, hingga aset lainnya. Setiap produk investasi memiliki karakteristik dan tingkat risiko masing-masing. Pemilihan produk sebaiknya mempertimbangkan tujuan investasi, jangka waktu, dan toleransi risiko investor.

    Karena itu, jangan membeli sebuah aset hanya karena sedang populer di media sosial. Sebelum membeli, setidaknya pahami bagaimana aset tersebut menghasilkan keuntungan, apa risiko utamanya, seberapa mudah aset tersebut dijual kembali, berapa biaya yang dikenakan, dan apakah produk tersebut sesuai dengan tujuan investasi. Misalnya, saham memberikan potensi capital appreciation, yaitu keuntungan ketika harga saham meningkat, dan bisa memberikan dividen. Namun, harga saham juga dapat turun sehingga investor mengalami kerugian.

    Begitu pula dengan produk lain. Tidak ada satu instrumen yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua orang. Kalau belum memahami cara kerja sebuah produk, tidak ada salahnya menunda pembelian dan mempelajarinya terlebih dahulu. Dalam investasi, tidak membeli sekarang bukan berarti kehilangan kesempatan selamanya.

  4. 4. Jangan lupa menghitung biaya dan diversifikasi

    ilustrasi investasi (Pexels.com/Leeloo The First)
    ilustrasi investasi (Pexels.com/Leeloo The First)

    Dua hal yang sering dianggap sepele oleh investor pemula adalah biaya dan diversifikasi. Padahal, keduanya bisa berpengaruh terhadap hasil investasi. Setiap produk atau layanan investasi dapat memiliki biaya tertentu, seperti biaya transaksi, biaya pengelolaan, atau biaya lainnya. Investor sebaiknya tidak hanya melihat potensi return.

    Selain itu, investor perlu memahami diversifikasi. Diversifikasi berarti menyebarkan uang ke berbagai investasi sehingga risiko tidak sepenuhnya bergantung pada satu aset. Misalnya, seseorang menempatkan seluruh portofolionya pada satu saham. Jika perusahaan tersebut mengalami masalah serius dan harga sahamnya jatuh, seluruh portofolio ikut terkena dampaknya.

    Dengan diversifikasi, risiko tersebut dapat disebarkan ke beberapa aset atau sektor. Namun, diversifikasi bukan berarti membeli sebanyak mungkin produk tanpa memahami isinya. Investor tetap perlu melihat hubungan antara aset-aset tersebut dan memastikan portofolionya sesuai dengan tujuan serta toleransi risikonya.

    investasi bukan sekadar mencari keuntungan. Memulai investasi memang bisa dilakukan dengan mudah. Namun, tantangannya justru memastikan keputusan yang diambil sesuai dengan kondisi keuangan sendiri. Oleh sebab itu, sebelum membeli aset, pahami dulu tujuan investasi, risiko, produk yang dipilih, biaya, dan diversifikasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More