ilustrasi logam mulia (Pexels.com/Michael Steinberg)
Investasi jangka panjang juga menghadapi persoalan lain, yakni dunia yang terus berubah. Sebuah perusahaan yang sangat kuat saat ini bisa kehilangan keunggulannya beberapa tahun kemudian. Teknologi baru dapat menggantikan produk lama. Selera konsumen berubah dan kompetitor baru bermunculan.
Karena itu, membeli aset yang terlihat bagus hari ini lalu melupakannya selama 20 tahun bukan selalu strategi yang aman. Harga saham dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk efektivitas manajemen perusahaan, kekuatan produk, permintaan konsumen, perubahan ekonomi, biaya tenaga kerja dan rantai pasok, serta perubahan preferensi investor. Jika investor hanya berpegang pada alasan awal ketika membeli saham tersebut tanpa mengevaluasi kembali kondisi bisnisnya, strategi hold untuk jangka panjang bisa berubah menjadi mempertahankan aset yang fundamentalnya sudah memburuk.
Ini merupakan perbedaan penting antara investasi jangka panjang dan membeli lalu tidak pernah mengevaluasi lagi. Investasi jangka panjang tetap membutuhkan evaluasi. Investor perlu melihat apakah aset yang dimiliki masih sesuai dengan tujuan, risiko, dan kondisi fundamentalnya.
Alokasi aset juga dapat berubah seiring waktu karena kebutuhan dan toleransi risiko investor berubah. Komposisi aset yang sesuai dapat berbeda pada berbagai tahap kehidupan, tergantung jangka waktu investasi dan toleransi risiko. Dengan kata lain, menjadi investor jangka panjang bukan berarti harus bertahan dengan satu aset selamanya. Yang dipertahankan adalah tujuan investasinya, bukan selalu aset yang sama.