Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI: Likuiditas Perbankan Tetap Memadai, INDONIA Turun ke 6,17 Persen
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti di Peking University pada Jumat (8/3/2024) (Dok. ANTARA FOTO)
  • Bank Indonesia menegaskan likuiditas perbankan nasional tetap memadai, tercermin dari turunnya suku bunga pasar uang antarbank (INDONIA) dari 6,62 persen menjadi 6,17 persen pada Juli 2026.
  • Ekspansi likuiditas BI melalui operasi moneter mencapai Rp837,11 triliun hingga pertengahan Juli 2026, mendorong pertumbuhan uang primer sebesar 12,8 persen secara tahunan.
  • BI terus memperkuat komunikasi dengan industri perbankan dan memantau kecukupan likuiditas guna menjaga stabilitas sistem keuangan serta efektivitas transmisi kebijakan moneter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memastikan kondisi likuiditas perbankan nasional tetap terjaga sehingga mampu mendukung penyaluran kredit dan target intermediasi perbankan. Meredanya tekanan likuiditas tercermin dari penurunan suku bunga pasar uang antarbank atau INDONIA dalam sebulan terakhir.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan INDONIA yang sempat menyentuh 6,62 persen pada 18 Juni 2026 telah turun menjadi 6,17 persen per 16 Juli 2026. Penurunan tersebut menunjukkan tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank mulai berkurang.

"Penurunan INDONIA mencerminkan berkurangnya tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank sehingga kebutuhan pendanaan jangka pendek dapat dipenuhi dengan biaya yang lebih rendah. Kondisi tersebut mengindikasikan likuiditas pasar uang yang tetap memadai," ujar Destry dalam keterangan resmi, Jumat (17/7/2026).

1. Ekspansi likuiditas BI melalui operasi moneter telah mencapai Rp837,11 triliun

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

BI menjelaskan, membaiknya kondisi likuiditas tidak terlepas dari strategi ekspansi moneter yang ditempuh bank sentral melalui berbagai instrumen, seperti repo, swap, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Hingga 16 Juli 2026, ekspansi likuiditas BI melalui operasi moneter telah mencapai Rp837,11 triliun.

"Langkah tersebut juga menopang pertumbuhan uang primer (M0) yang tetap tumbuh dua digit, yakni 12,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada akhir Juni 2026," jelasnya.

2. BI jalin komunikasi intens dengan perbankan

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Selain memperkuat pasokan likuiditas, BI juga terus menjalin komunikasi intensif dengan industri perbankan untuk mengatasi hambatan distribusi likuiditas antarbank dengan tetap memperhatikan pengelolaan risiko.

Di sisi lain, BI bersama asosiasi pasar, industri perbankan, dan otoritas terkait terus mendorong pendalaman pasar uang agar tercipta pasar yang lebih dalam, likuid, dan efisien. Pengawasan serta surveilans terhadap aktivitas pasar juga terus diperkuat guna memastikan perilaku pelaku pasar tetap berada dalam koridor yang wajar.

3. BI memastikan bakal terus memantau kecukupan likuiditas

ilustrasi uang kertas (unsplash.com/@alexandermils)

Ke depan, BI menegaskan akan terus memantau kecukupan likuiditas perbankan agar transmisi kebijakan moneter berjalan efektif.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui distribusi likuiditas yang lebih merata dan pembentukan suku bunga yang lebih efisien.

Editorial Team

Related Article