Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bitcoin Anjlok? Begini Cara Investor Cerdas Manfaatkan Volatilitasnya
Ilustrasi bitcoin (freepik.com)

Intinya sih...

  • Harga Bitcoin turun 21 perssen dalam satu bulan, membuat nilai investasi merah

  • Investor jangka panjang tetap tenang karena Bitcoin sering mengalami koreksi harga sebelum melonjak lagi

  • Strategi dollar-cost averaging (DCA) efektif mengurangi risiko dan memanfaatkan volatilitas harga Bitcoin

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pergerakan harga Bitcoin sepanjang satu bulan terakhir kembali mengingatkan investor pada satu hal penting: volatilitas jangka pendek itu normal. Yang menentukan hasil akhirnya bukan naik-turunnya harga harian, melainkan strategi investasi yang kamu gunakan. Volatilitas bisa menjadi ancaman atau justru keuntungan, semuanya bergantung pada pendekatanmu.

Jika kamu membeli Bitcoin sekitar sebulan lalu dan membandingkannya dengan harga saat ini, nilai portofoliomu pasti terlihat menurun cukup tajam. Namun, bagi investor yang lebih fokus pada durasi investasi ketimbang polesan timing pasar, penurunan ini justru membuka peluang baru.

1. Berapa nilai investasimu hari ini?

Ilustrasi portofolio investasi (freepik.com)

Pada 25 Oktober 2025, harga Bitcoin berada di kisaran 111.642 dolar AS. Saat ini, nilainya turun ke sekitar 88. ribu dolar AS, setara dengan penurunan sekitar 21 persen hanya dalam satu bulan. Berapa pun jumlah yang kamu tanamkan, hasil investasimu saat ini pasti berada di zona merah.

Perkiraannya seperti ini:

  • Investasi 1.000 dolar AS → kini sekitar 790 dolar AS

  • Investasi 5.000 dolar AS → kini sekitar 3.950 dolar AS

  • Investasi 10 ribu dolar AS → kini sekitar 7.900 dolar AS

Tentu saja, melihat angka turun jauh seperti ini terasa mengecewakan. Namun, inilah alasan banyak investor menghindari memasukkan seluruh dana ke pasar dalam satu waktu.

2. Mengapa investor jangka panjang tetap tenang?

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Bitcoin sempat menembus rekor tertinggi di sekitar $126.000 pada 6 Oktober berkat lonjakan permintaan. Hanya beberapa hari kemudian, harganya kembali terkoreksi. Inilah salah satu karakteristik utama kripto—bergerak cepat, liar, dan sering kali tak terduga.

Bagi investor jangka pendek, gejolak ini bisa terasa mengkhawatirkan. Tetapi dalam konteks jangka panjang, Bitcoin sudah berkali-kali menunjukkan pola serupa: naik, kemudian terkoreksi, stabil, lalu melonjak lagi. Koreksi seperti yang terjadi bulan ini bukan hal aneh, justru sering menjadi titik peluang bagi mereka yang ingin menambah posisi dengan harga lebih rendah.

3. Kekuatan Dollar-Cost Averaging (DCA)

Ilustrasi bitcoin (freepik.com)

Dalam situasi seperti ini, strategi dollar-cost averaging (DCA) terbukti sangat efektif. Dengan harga Bitcoin yang turun dari rekor tertinggi ke kisaran 88 ribu dolar AS, banyak investor bingung harus bertahan atau keluar dari pasar.

Dollar-cost averaging adalah strategi menyetor jumlah investasi tetap secara berkala tanpa peduli kondisi pasar. Cara ini membantu investor menghindari pembelian di puncak harga sekaligus membangun posisi secara konsisten.

Dua keuntungan terbesar dari DCA:

  • Mengurangi risiko membeli di harga mahal.

Jika kamu rutin membeli Bitcoin saat harganya turun, maka harga rata-rata pembelianmu akan ikut turun.

  • Mengubah volatilitas menjadi peluang.

Ketika harga jatuh, jumlah Bitcoin yang kamu dapatkan meningkat. Saat harga naik, kamu tetap membeli, meski jumlah yang didapat lebih sedikit. Hasil akhirnya, kamu mengumpulkan lebih banyak unit kripto saat pasar menawarkan "diskon".

Pada akhirnya, fluktuasi tajam pada harga Bitcoin bukan hanya ujian mental bagi investor, tetapi juga peluang strategis bagi mereka yang mampu melihat gambaran jangka panjang. Dengan pendekatan yang disiplin, perencanaan yang matang, dan pemahaman mendalam tentang volatilitas pasar, investor dapat mengubah gejolak harga menjadi momentum untuk memperkuat portofolio.

Di dunia kripto yang serba cepat dan tak terduga, mereka yang bijak bukanlah yang menebak puncak atau dasar harga, melainkan yang konsisten membangun posisi dan tetap tenang menghadapi setiap perubahan pasar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team