Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi tabungan dana darurat
ilustrasi tabungan dana darurat (pexels.com/Marta Branco)

Intinya sih...

  • Tidak punya dana darurat masih wajar jika penghasilan dan kebutuhan hidup belum memberi ruang untuk menabung.

  • Prioritas, tahap hidup, dan dukungan keluarga membuat kebutuhan dana darurat tiap orang berbeda.

  • Dana darurat bisa dibangun bertahap dari nominal kecil tanpa harus memaksakan diri sejak awal.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Istilah dana darurat sering muncul ketika orang membicarakan uang sehari-hari sehingga terasa seperti kewajiban yang harus dipenuhi semua orang. Kenyataannya, kondisi masing-masing tidak sama dan tidak semua orang mampu menyisihkan uang secara teratur. Ada yang masih fokus pada biaya hidup pokok, ada juga yang baru memulai karier sehingga tabungan belum mungkin terbentuk. Berikut beberapa sudut pandang yang bisa dipertimbangkan.

1. Penghasilan memengaruhi kemampuan menyimpan dana

ilustrasi penghasilan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Sebagian orang bekerja dengan pendapatan pas-pasan sehingga uang lebih dulu habis untuk kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, transportasi, dan makan. Tidak memiliki tabungan pada fase ini lazim terjadi karena prioritas utama masih bertumpu pada hal-hal wajib. Fokus menjaga kelancaran kebutuhan sering lebih realistis dibanding memaksakan potongan khusus untuk simpanan. Banyak orang merasakan hal ini sepanjang tahun pertama bekerja atau saat baru pindah kota. Anggapan bahwa semua orang harus langsung menabung hanya membuat hidup terasa berat.

Ketika penghasilan mulai meningkat, ruang untuk menabung muncul tanpa perlu memotong kebutuhan penting. Nominal kecil yang konsisten lebih mungkin dipertahankan dan terasa ringan. Cara ini membantu membangun kebiasaan menyimpan tanpa menambah beban baru. Prosesnya bertahap dan berbeda untuk tiap orang. Tidak ada garis waktu baku kapan seseorang seharusnya sudah punya tabungan.

2. Pilihan hidup ikut mengarahkan pengeluaran

ilustrasi pengeluaran (pexels.com/Karola G)

Pengeluaran sering mengikuti apa yang sedang dibutuhkan seseorang, misalnya menjaga pertemanan, me time selepas bekerja, atau mendukung hobi. Hal-hal seperti ini bukan pemborosan, melainkan bagian dari kehidupan. Kadang, tabungan tertunda karena uang diarahkan untuk hal yang lebih penting saat itu. Selama tidak merugikan diri sendiri dalam jangka panjang, keputusan tersebut tetap masuk akal.

Akan tetapi, menyesuaikan kebiasaan tetap bisa dilakukan tanpa mengubah cara hidup sepenuhnya. Satu langkah kecil, seperti mengurangi frekuensi layanan tertentu atau memilih transportasi alternatif, dapat menyisakan dana lebih. Perubahan ringan seperti ini biasanya tidak terasa menyakitkan, tetapi cukup memunculkan peluang menabung. Pendekatan ini lebih realistis bagi banyak orang.

3. Tahap hidup membentuk prioritas

ilustrasi prioritas (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

Pada usia lebih muda, fokus umumnya pada eksplorasi pekerjaan, mencari pengalaman baru, dan mencoba hal-hal berbeda. Pada periode ini, dana darurat sering terdorong ke bawah daftar prioritas karena beban hidup belum besar. Tidak memiliki simpanan tidak otomatis berarti sembrono, melainkan cerminan kebutuhan yang sedang dihadapi.

Ketika tanggung jawab bertambah, misalnya pindah rumah, menikah, atau mulai mengurus keluarga, barulah tabungan terasa penting. Perubahan ini terjadi wajar tanpa perlu disadari. Banyak orang mulai menabung begitu kebutuhan mendukungnya. Pergeseran prioritas ini menunjukkan bahwa waktu tepat menabung sering datang sendiri.

4. Rasa aman tidak sama dalam semua keluarga

ilustrasi penghasilan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Ada yang merasa cukup tenang tanpa tabungan karena memiliki jaringan bantuan, seperti keluarga dekat atau teman yang siap membantu. Sistem ini membuat dana darurat tampak lebih opsional. Banyak keluarga menjalani hidup bertahun-tahun dengan cara ini tanpa masalah berarti.

Sebaliknya, orang yang tinggal sendiri atau jauh dari rumah sering membutuhkan simpanan agar merasa lebih aman. Keberadaan uang cadangan memberikan ruang bergerak jika terjadi situasi mendesak. Dua cara ini sama validnya karena bertumpu pada kondisi nyata masing-masing orang. Tidak ada standar untuk menentukan mana yang benar.

5. Tabungan bisa dibangun bertahap

ilustrasi tabungan dana darurat (pexels.com/maitree rimthong)

Tidak sedikit orang berhenti menabung sebelum mulai karena merasa jumlahnya harus besar. Padahal, akumulasi nilai kecil pun bisa bermanfaat ketika diperlukan. Menyisihkan sebagian uang tambahan, bonus kecil, atau sisa belanja dapat menjadi langkah awal yang realistis. Proses sederhana seperti ini lebih mudah dipertahankan.

Seiring waktu, saldo akan terbentuk tanpa terasa memaksa. Cara ini lebih cocok bagi yang belum siap menyisihkan sebagian besar pendapatan. Yang penting ialah keberlanjutan, bukan angka besar sejak awal. Hal tersebut membantu menciptakan bantalan kecil yang kelak bisa menyelamatkan situasi mendadak.

Tidak punya dana darurat masih wajar selama kebutuhan utama belum memberi ruang untuk menyimpan uang. Kapan seseorang mulai menabung bergantung pada situasinya, bukan tren atau perbandingan. Pertanyaannya tinggal kapan momen paling tepat untuk mengambil langkah pertama?

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎