Perlukah Merahasiakan Keuangan dari Orangtua? Ini Pertimbangannya

- Menjaga privasi keuangan bisa menjadi batasan sehat agar kamu belajar mandiri dan menghindari konflik dengan orangtua.
- Keterbukaan finansial tetap bermanfaat dalam kondisi tertentu asalkan dilakukan secara selektif dan tidak berlebihan.
- Menentukan batas yang tepat membantu kamu tetap bertanggung jawab tanpa mengorbankan kestabilan emosional dan finansial sendiri.
Saat masih anak-anak dan remaja, kamu mungkin diajari untuk selalu terbuka pada orangtua. Namun, begitu menjadi orang dewasa yang mandiri secara finansial, kamu mulai bingung perlukah terbuka soal keuangan pada orangtua? Di satu sisi, kamu ingin privasi soal finansial, tapi di sisi lain ada rasa bersalah jika merahasiakan kondisi finansial dari orangtua.
Setiap keluarga memiliki dinamika, latar budaya, dan pengalaman finansial yang berbeda. Karena itu, keputusan untuk terbuka atau menjaga privasi keuangan sebaiknya didasarkan pada pertimbangan matang, bukan sekadar rasa tidak enak atau ketakutan. Agar tidak salah mengambil keputusan, yuk, pertimbangan soal perlu tidaknya merahasiakan keuangan dari orangtua.
1. Privasi keuangan sebagai batasan yang sehat

Merahasiakan keuangan tidak selalu berarti berbohong atau memutus hubungan emosional. Sebagai orang dewasa yang sedang belajar mandiri, privasi keuangan justru bisa menjadi bentuk batasan yang sehat. Saat orangtua mengetahui penghasilan, tabungan, atau investasi anak, tidak jarang muncul komentar, saran berlebihan, bahkan tuntutan berlebih.
Batasan ini penting agar anak bisa belajar mengelola finansialnya secara mandiri tanpa intervensi yang berlebihan, apalagi jika keputusan finansial melibatkan pasangan atau keluarga inti yang baru dibangun. Menjaga sebagian informasi tetap tertutup dapat membantu mengurangi konflik. Keharmonisan pun bisa dijaga dalam jangka panjang.
2. Kadang, keterbukaan justru membantu

Di sisi lain, ada kondisi saat terbuka secara finansial dengan orangtua justru membawa manfaat besar. Ini bisa kamu lakukan saat kamu baru memasuki dunia kerja dengan gaji pas-pasan, baru membangun rumah tangga, menghadapi krisis ekonomi, atau sedang memulai usaha. Sebagai orang yang berpengalaman, orangtua bisa memberi sudut pandang realistis, bahkan bantuan jika memang dibutuhkan.
Meski begitu, keterbukaan ini seharusnya bersifat selektif, bukan membuka seluruh detail keuangan tanpa filter. Berbagi konteks dan garis besar kondisi sering kali sudah cukup. Kamu tidak perlu menyebut angka pasti atau seluruh aset yang kamu punya.
3. Faktor budaya dan rasa tanggung jawab

Dalam banyak keluarga Indonesia, anak yang sudah bekerja diharapkan bisa ikut bertanggung jawab atas kesejahteraan orangtua. Hal ini membuat transparansi keuangan terasa seperti kewajiban moral. Sayangnya, jika tidak diimbangi komunikasi yang sehat, keterbukaan ini bisa berubah menjadi beban finansial dan emosional.
Ingat, di sini yang harus kamu lakukan ialah membantu sesuai kemampuan dengan ikhlas. Jangan sampai ekspektasi keluarga justru membuatmu merasa terpaksa saat membantu. Menjaga sebagian informasi keuangan tetap bersifat pribadi bukan berarti tidak peduli, melainkan upaya menjaga stabilitas diri.
4. Kenali dampak emosionalnya jika terlalu terbuka

Terlalu terbuka soal keuangan juga bisa memengaruhi kondisi mental. Tekanan untuk selalu terlihat mampu dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga justru bisa membuatmu mengorbankan kebutuhan diri sendiri, tidak memiliki tabungan, bahkan berutang diam-diam. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan stres kronis dan konflik batin. Dengan membatasi informasi yang dibagikan, kamu dapat tetap membantu orangtua sambil mengelola ekspektasi mereka.
5. Menentukan batas yang tepat

Solusi dari dilema yang kamu alami bukanlah merahasiakan atau membuka semuanya, melainkan menentukan batas yang tepat. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah informasi yang kamu berikan akan membantu atau justru memperumit keadaan? Apakah keterbukaan ini lahir dari kebutuhan atau hanya karena rasa tidak enak?
Setiap orang berhak menjaga kondisi finansialnya tetap privat, termasuk jika berkaitan dengan orangtua. Selama kamu tetap menjaga komunikasi yang baik, merahasiakan kondisi keuangan dari orangtua bukanlah sebuah dosa. Jadi, kamu tak perlu khawatir lagi.



















