Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Menentukan Gaji Karyawan Pertama untuk Bisnis UMKM
ilustrasi karyawan bisnis fnb (pexels.com/Elle Hughes)
  • UMKM perlu menetapkan gaji karyawan pertama berdasarkan laba, biaya operasional, dan proyeksi arus kas aktual, bukan sekadar omzet atau sisa dana.
  • Besaran kompensasi harus selaras dengan tugas, keterampilan, jam kerja, dan tanggung jawab posisi, sambil membandingkan kisaran upah pekerjaan serupa di wilayah serta industri terkait.
  • Pemilik usaha wajib memeriksa aturan pengupahan dan menghitung total biaya tenaga kerja, termasuk tunjangan, jaminan sosial, THR, lembur, lalu mengevaluasinya berkala sesuai kondisi bisnis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Merekrut karyawan pertama menjadi salah satu langkah penting bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan bisnisnya. Namun, menentukan gaji sering kali menjadi tantangan karena pemilik usaha harus menyeimbangkan kemampuan keuangan, kebutuhan operasional, dan kesejahteraan karyawan. Jika nominalnya terlalu tinggi, arus kas bisnis bisa terganggu, sedangkan gaji yang terlalu rendah berisiko menyulitkan usaha mendapatkan tenaga kerja yang sesuai.

Penentuan gaji sebaiknya tidak hanya didasarkan pada sisa uang setelah seluruh biaya usaha dibayar. Pemilik UMKM perlu mempertimbangkan tanggung jawab pekerjaan, standar upah yang berlaku, serta kemampuan bisnis membayar gaji secara konsisten. Dengan perhitungan yang matang, perekrutan karyawan pertama dapat menjadi investasi untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha.

1. Hitung kemampuan keuangan bisnis

ilustrasi atur keuangan bisnis (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Langkah pertama adalah memahami kondisi keuangan usaha, terutama pendapatan, biaya operasional, dan arus kas bulanan. Pemilik UMKM perlu menghitung pengeluaran rutin seperti bahan baku, sewa tempat, listrik, pemasaran, serta kewajiban pembayaran lainnya sebelum menentukan anggaran tenaga kerja. Perhitungan ini membantu mengetahui apakah bisnis memiliki ruang keuangan yang cukup untuk membayar karyawan secara berkelanjutan.

Jangan hanya menggunakan omzet sebagai patokan karena pendapatan penjualan belum tentu mencerminkan keuntungan yang benar-benar tersedia. Sebagai contoh, usaha dengan omzet Rp30 juta per bulan belum tentu mampu membayar gaji besar jika biaya bahan baku dan operasionalnya juga tinggi. Karena itu, gunakan catatan keuangan aktual dan proyeksi arus kas untuk menentukan batas anggaran gaji yang realistis.

2. Sesuaikan gaji dengan tugas dan tanggung jawab

ilustrasi bisnis fnb (pexels.com/Kenneth Surilo)

Besaran gaji sebaiknya mengikuti jenis pekerjaan, tingkat keterampilan, jam kerja, serta tanggung jawab yang diberikan kepada karyawan. Karyawan yang menangani kasir dan pelayanan pelanggan memiliki kebutuhan kompetensi yang berbeda dari staf administrasi atau tenaga produksi. Semakin besar tanggung jawab dan keterampilan yang dibutuhkan, semakin penting bagi pemilik usaha untuk mengevaluasi kesesuaian kompensasinya.

Sebelum merekrut, buat daftar tugas utama agar posisi yang ditawarkan memiliki ruang lingkup kerja yang jelas. Setelah itu, bandingkan kisaran gaji untuk pekerjaan serupa di wilayah dan industri yang relevan. Cara ini membantu UMKM menawarkan kompensasi yang wajar sekaligus menghindari ketidaksesuaian antara beban kerja dan upah.

3. Periksa aturan upah yang berlaku

ilustrasi bisnis fnb (pexels.com/Kampus Production)

Pemilik UMKM perlu memahami ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku sebelum menetapkan gaji karyawan pertama. Upah minimum dan ketentuan pengupahan dapat berbeda berdasarkan wilayah, sektor, serta karakteristik hubungan kerja, sehingga nominal yang sesuai untuk satu usaha belum tentu berlaku bagi usaha lainnya. Status usaha sebagai UMKM juga tidak otomatis berarti pemilik dapat menetapkan upah tanpa memperhatikan aturan yang berlaku.

Periksa ketentuan upah minimum daerah dan aturan khusus mengenai pengupahan bagi usaha mikro dan kecil, jika memenuhi kriteria yang ditentukan peraturan. Pemilik usaha juga perlu memahami kewajiban terkait jam kerja, lembur, THR, jaminan sosial, dan hak pekerja lainnya sesuai ketentuan yang berlaku. Jika terdapat keraguan mengenai penerapan aturan pada bisnis tertentu, konsultasikan dengan dinas ketenagakerjaan setempat atau tenaga profesional yang memahami hukum ketenagakerjaan.

4. Hitung seluruh biaya tenaga kerja, bukan hanya gaji pokok

ilustrasi bisnis mie (pexels.com/nam mau)

Biaya mempekerjakan karyawan tidak selalu berhenti pada gaji pokok yang dibayarkan setiap bulan. Pemilik UMKM mungkin juga perlu menganggarkan tunjangan, iuran jaminan sosial yang menjadi tanggung jawab pemberi kerja, THR, upah lembur, serta biaya pelatihan atau perlengkapan kerja sesuai kebutuhan. Jika komponen tersebut tidak diperhitungkan sejak awal, pengeluaran tenaga kerja dapat melebihi anggaran yang telah disiapkan.

Buat simulasi biaya bulanan dan tahunan agar kebutuhan dana terlihat lebih jelas. Misalnya, apabila gaji pokok yang direncanakan sebesar Rp3 juta per bulan, biaya tahunan tidak cukup dihitung hanya dengan mengalikan nominal tersebut dengan 12 karena ada kewajiban lain yang mungkin berlaku. Perhitungan menyeluruh membantu pemilik usaha menetapkan anggaran perekrutan yang lebih akurat dan mengurangi risiko kekurangan kas.

5. Tentukan gaji yang berkelanjutan dan evaluasi secara berkala

ilustrasi bisnis makanan (pexels.com/Kampus Production)

Gaji karyawan pertama perlu mempertimbangkan kemampuan usaha saat ini sekaligus proyeksi pertumbuhan bisnis ke depan. Pemilik UMKM sebaiknya tidak menjanjikan kenaikan gaji atau bonus yang belum didukung oleh kemampuan keuangan yang memadai. Sebaliknya, kompensasi yang wajar dan dibayarkan tepat waktu dapat membantu membangun hubungan kerja yang lebih sehat.

Tetapkan jadwal evaluasi untuk meninjau kinerja karyawan, perkembangan tanggung jawab, dan kondisi keuangan bisnis. Jika usaha semakin berkembang, pemilik dapat mempertimbangkan penyesuaian gaji atau insentif berdasarkan hasil evaluasi dan kemampuan anggaran. Pastikan setiap kesepakatan mengenai gaji, tunjangan, dan ketentuan kerja disampaikan secara jelas sejak awal agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Menentukan gaji karyawan pertama untuk bisnis UMKM membutuhkan perhitungan yang mencakup kemampuan keuangan, tanggung jawab pekerjaan, ketentuan upah, dan seluruh biaya tenaga kerja. Pemilik usaha sebaiknya tidak hanya berpatokan pada omzet atau mengikuti nominal yang ditawarkan bisnis lain tanpa mempertimbangkan kondisi usahanya sendiri. Dengan dasar perhitungan yang tepat, perekrutan dapat mendukung produktivitas sekaligus menjaga kesehatan arus kas.

Sebelum membuat penawaran kerja, susun anggaran bulanan, periksa aturan ketenagakerjaan yang relevan, dan tentukan rincian kompensasi secara transparan. Pastikan bisnis mampu memenuhi kewajiban pembayaran secara konsisten, bahkan ketika penjualan mengalami penurunan sementara. Pendekatan ini membantu UMKM membangun tim pertama secara lebih terencana dan menciptakan fondasi yang baik untuk pertumbuhan usaha berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article