ilustrasi evaluasi margin (pexels.com/ olia danilevich)
Harga bahan baku bisa berubah dan langsung memengaruhi keuntungan per produk. Misalnya, biaya produksi roti yang awalnya Rp10.000 naik menjadi Rp12.000 karena harga bahan baku dan biaya operasional meningkat, sementara harga jual masih Rp14.000. Keuntungan kotor yang sebelumnya Rp4.000 otomatis turun menjadi Rp2.000 per roti.
Karena itu, lakukan pengecekan secara berkala, misalnya setiap tiga sampai enam bulan atau lebih cepat ketika biaya bahan baku berubah cukup besar. Kalau harga jual perlu dinaikkan dari Rp14.000 menjadi Rp15.000, lihat juga respons pelanggan setelah perubahan tersebut. Kalau penjualan turun cukup banyak, kamu bisa mempertimbangkan efisiensi bahan, ukuran produk, kemasan, atau biaya operasional sebelum menaikkan harga lagi.
Mengurus margin keuntungan memang bukan pekerjaan sekali selesai. Kondisi usaha bisa berubah ketika harga bahan baku naik, menu bertambah, jumlah produksi meningkat, atau target pelanggan mulai bergeser. Dengan rutin mencatat biaya dan membandingkannya dengan harga jual, kamu jadi lebih mudah melihat produk mana yang benar-benar memberikan keuntungan.
Gak perlu menunggu bakery sudah besar untuk mulai serius mencatat angka-angka tersebut. Bahkan dari satu atau dua produk saja, kamu sudah bisa membiasakan diri menghitung biaya, harga jual, keuntungan kotor, dan margin. Kebiasaan menerapkan cara menentukan margin keuntungan ideal untuk bisnis bakery ini nantinya dapat membantumu menjaga supaya omzet yang terlihat besar tetap diikuti oleh keuntungan yang sehat.