SMBC Indonesia Salurkan Kredit Rp185,4 Triliun di 2025, Tumbuh 3,3 Persen

- PT Bank SMBC Indonesia menyalurkan kredit konsolidasi Rp185,4 triliun sepanjang 2025, tumbuh 3,3 persen yoy dengan dukungan utama dari segmen korporasi, komersial, dan layanan digital Jenius.
- Total aset konsolidasi mencapai Rp245,9 triliun dengan rasio kecukupan modal 29,3 persen serta likuiditas kuat melalui peningkatan CASA dan dana pihak ketiga yang menopang ekspansi kredit.
- Laba bersih konsolidasi tercatat Rp506 miliar dipengaruhi kenaikan CKPN sebagai langkah kehati-hatian, sementara program Daya memperluas pemberdayaan masyarakat hingga puluhan juta partisipan.
Jakarta, IDN Times - PT Bank SMBC Indonesia Tbk mencatat penyaluran kredit secara konsolidasi sebesar Rp185,4 triliun sepanjang 2025. Di tengah dinamika ekonomi, bank ini juga memperluas program pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan.
Berdasarkan laporan kinerja perusahaan, penyaluran kredit SMBC Indonesia tersebut tumbuh 3,3 persen secara tahunan. Pertumbuhan terutama ditopang segmen korporasi dan komersial yang meningkat 6,5 persen secara tahunan (year on year/yoy), serta kredit Jenius di luar Digital Micro yang tumbuh 11,3 persen.
Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar mengatakan, kinerja tersebut mencerminkan strategi perusahaan yang berfokus pada penguatan fundamental bisnis dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Kinerja konsolidasi SMBC Indonesia mencerminkan strategi yang berfokus pada fundamental bisnis yang didasari tata kelola yang baik,” ujar Henoch dalam keterangan, Rabu (4/3/2026).
1. Aset konsolidasi SMBC tembus Rp245,9 triliun

Hingga akhir Desember 2025, total aset konsolidasi SMBC Indonesia mencapai Rp245,9 triliun atau tumbuh 2 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari sisi pendanaan, dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 16,7 persen menjadi Rp53,2 triliun dengan rasio CASA mencapai 40,6 persen.
Secara keseluruhan, dana pihak ketiga (DPK) bank tumbuh 8 persen menjadi Rp131 triliun. Kenaikan dana masyarakat ini menopang kebutuhan likuiditas untuk ekspansi kredit.
"Likuiditas bank terjaga kuat. Hingga akhir 2025, rasio liquidity coverage ratio (LCR) tercatat 229,4 persen dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 123 persen," ucap Henoch.
2. Rasio kecukupan modal di level 29,3 persen

Sementara itu, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) berada di level 29,3 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri perbankan sekitar 25,9 persen. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau gross non-performing loan (NPL) tercatat 2,6 persen pada akhir 2025, membaik dari 2,8 persen pada September 2025.
Pendapatan operasional konsolidasi SMBC Indonesia mencapai Rp 18,4 triliun atau meningkat 5,8 persen yoy. Pendapatan bunga bersih tumbuh 4,6 persen dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) terjaga di level 7 persen.
3. Kenaikan CKPN sebagai langkah kehati-hatian

Secara konsolidasi, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp506 miliar pada 2025. Henoch menjelaskan, capaian tersebut dipengaruhi peningkatan pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), terutama pada anak usaha Grup OTO.
“Kenaikan CKPN merupakan langkah kehati-hatian untuk menjaga kualitas aset dan ketahanan bank di tengah dinamika ekonomi,” kata dia.
4. Pertumbuhan bank tidak hanya diukur dari kinerja finansial

Di sisi lain, secara entitas bank, SMBC Indonesia membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp1,5 triliun sepanjang 2025. Anak usaha perseroan, PT Bank BTPN Syariah Tbk., juga mencatatkan kinerja positif dengan laba bersih Rp1,2 triliun atau tumbuh 13,2 persen. Penyaluran pembiayaan bank syariah tersebut mencapai Rp10,3 triliun.
Selain kinerja finansial, SMBC Indonesia memperluas program pemberdayaan masyarakat melalui program Daya. Hingga Desember 2025, program ini telah menjangkau hampir 37 juta partisipan melalui lebih dari 12.000 kegiatan pelatihan, edukasi keuangan, hingga pendampingan usaha.
Henoch menegaskan, pertumbuhan bank tidak hanya diukur dari kinerja finansial, tetapi juga dari kontribusi terhadap pemberdayaan dan inklusi ekonomi masyarakat.
“Pertumbuhan berkelanjutan tidak hanya soal kinerja keuangan, tetapi juga bagaimana kami memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Henoch.


















