Pakar Sebut Orang Gagal Finansial Punya Kebiasaan yang Sama

- Robert Kiyosaki menilai perbedaan utama antara orang sukses dan gagal finansial terletak pada cara mengelola uang, terutama dalam membangun aset yang menghasilkan arus kas.
- Ia mengkritik kebiasaan hidup konvensional yang hanya bergantung pada gaji dan menabung, serta membeli barang mewah yang justru menjadi liabilitas, bukan sumber kekayaan.
- Kiyosaki mendorong perubahan pola pikir dari konsumen menjadi investor dengan fokus membangun aset produktif agar tercipta pendapatan pasif dan kebebasan finansial jangka panjang.
Robert Kiyosaki dikenal sebagai salah satu tokoh literasi keuangan yang kerap menyampaikan pandangan secara lugas dan provokatif. Sama seperti sahabatnya, Donald Trump, Kiyosaki sering membagi masyarakat ke dalam dua kelompok besar: mereka yang berhasil membangun kekayaan dan mereka yang gagal melakukannya. Menurutnya, perbedaan utama antara keduanya terletak pada cara mengelola dan menginvestasikan uang.
Dalam berbagai kesempatan, Kiyosaki menekankan bahwa tujuan utama seseorang seharusnya bukan sekadar bekerja untuk mendapatkan penghasilan, melainkan membuat uang bekerja untuk dirinya. Ia percaya bahwa aset yang mampu menghasilkan arus kas dan bertumbuh nilainya dari waktu ke waktu jauh lebih penting dibandingkan sekadar menabung atau mengandalkan pendapatan dari pekerjaan. Karena itu, ia lebih menyukai investasi seperti properti, emas, perak, dan aset digital dibandingkan instrumen investasi tradisional yang umum digunakan banyak orang.
1. Kebiasaan keuangan yang menurut Kiyosaki membuat seseorang sulit kaya

Dalam sebuah video di YouTube, Kiyosaki kembali mengulas berbagai prinsip yang selama ini ia bahas dalam buku-bukunya, sambil mengaitkannya dengan tren investasi modern seperti kripto. Ia mengkritik pola pikir yang menurutnya terlalu bergantung pada jalur keuangan konvensional.
Menurut Kiyosaki, banyak orang menjalani pola hidup yang sama: bersekolah, mencari pekerjaan, membayar pajak, bekerja keras, menabung, lalu menempatkan dana mereka di akun pensiun seperti 401(k). Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai pola yang membatasi potensi seseorang untuk mencapai kebebasan finansial.
Tak hanya itu, Kiyosaki juga mengkritik kebiasaan membeli barang-barang mahal yang dianggap sebagai simbol kesuksesan. Rumah mewah, mobil sport, atau kendaraan mewah lainnya sering kali dianggap sebagai aset oleh pemiliknya. Namun menurutnya, jika aset tersebut justru terus menguras uang melalui cicilan, pajak, asuransi, dan biaya perawatan, maka pada praktiknya aset itu lebih menyerupai liabilitas daripada sumber kekayaan.
2. Hanya mengutamakan gaji

Salah satu prinsip utama Kiyosaki adalah fokus pada aset yang menghasilkan arus kas positif. Dalam pandangannya, aset sejati adalah sesuatu yang secara rutin memasukkan uang ke kantong pemiliknya.
Contohnya adalah properti sewa yang menghasilkan pendapatan bulanan, bisnis yang memberikan keuntungan, saham yang membayar dividen, hingga hak kekayaan intelektual yang menghasilkan royalti. Aset-aset tersebut dinilai mampu menciptakan sumber pendapatan pasif yang terus mengalir tanpa harus bergantung sepenuhnya pada waktu dan tenaga pemiliknya.
Kiyosaki percaya bahwa tujuan akhir seorang investor adalah membangun pendapatan pasif yang pada akhirnya mampu melampaui seluruh biaya hidupnya. Ketika pendapatan dari aset sudah cukup untuk menutupi pengeluaran, seseorang dianggap telah mencapai kebebasan finansial karena tidak lagi bergantung pada gaji bulanan sebagai sumber penghasilan utama.
3. Pelajaran yang bisa dipetik

Tentu saja, pandangan Kiyosaki tidak lepas dari kritik. Beberapa pihak menilai pendekatannya terlalu menyederhanakan persoalan keuangan. Selain itu, rekam jejak bisnisnya, penggunaan utang dalam investasi, dan strategi agresif yang sering ia promosikan juga dianggap berisiko oleh sebagian investor.
Namun di balik gaya komunikasinya yang keras, terdapat pelajaran penting yang patut dipertimbangkan. Kiyosaki mendorong orang untuk mengubah pola pikir dari sekadar konsumen menjadi investor. Alih-alih hanya berfokus pada penghematan atau peningkatan pendapatan dari pekerjaan, ia mengajak masyarakat untuk mulai membangun aset yang dapat menghasilkan uang secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, tidak semua orang harus mengikuti strategi investasi yang sama dengan Kiyosaki. Menyimpan dana di instrumen pensiun, bekerja sebagai karyawan, atau memiliki rumah pribadi bukanlah keputusan yang otomatis salah. Namun pesan utamanya tetap relevan: mengandalkan satu sumber penghasilan saja dapat membatasi peluang membangun kekayaan dalam jangka panjang. Dengan memiliki aset produktif yang mampu menghasilkan arus kas, seseorang berpotensi menciptakan fondasi keuangan yang lebih kuat, lebih fleksibel, dan lebih siap menghadapi berbagai perubahan ekonomi di masa depan.

![[QUIZ] Di Umur Berapa Kamu Akan Sukses? Cari Tahu Lewat Kuis Ini!](https://image.idntimes.com/post/20240726/pexels-minan1398-1134190-67cbd4c42daa4906a548a933aa986dd0.jpg)






![[QUIZ] Dari Tanggal Lahirmu, Ini Ide Franchise yang Cocok Untukmu!](https://image.idntimes.com/post/20240228/lisanto-fjxa21l-ihw-unsplash-a5b9962b3fc7f3cf62c097d65b42212c.jpg)









