Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Tanda Kamu Terlalu Mengejar Keuntungan dari Investasi
ilustrasi investasi (Pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Terlalu mengejar cuan terlihat saat investor sering pindah ke aset yang sedang naik, sehingga berisiko membeli pada harga tinggi dan menjual ketika pasar turun.
  • Fokus pada imbal hasil tanpa memahami risiko perlu diwaspadai, terutama tawaran untung tinggi yang mengklaim minim risiko, pasti untung, atau tidak mungkin rugi.
  • Transaksi berlebihan karena takut ketinggalan dapat memicu keputusan emosional; investasi perlu mempertimbangkan tujuan, jangka waktu, toleransi risiko, biaya, dan diversifikasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Investasi memang bertujuan menghasilkan keuntungan. Namun, pernahkah kamu merasa gelisah hanya karena investasi yang dimiliki naiknya tidak secepat milik orang lain? Melihat teman cuan dari saham tertentu, membaca cerita orang yang berhasil menggandakan modal, atau melihat aset tertentu sedang rally memang bisa membuat kita tergoda ikut masuk. Masalahnya, keputusan investasi yang terlalu berorientasi pada keuntungan bisa membuat kita mengabaikan risiko.

Potensi keuntungan yang lebih tinggi biasanya datang bersama risiko yang lebih tinggi. Investor juga perlu mempertimbangkan tujuan, jangka waktu investasi, toleransi risiko, serta diversifikasi portofolio. Jadi, bagaimana mengetahui kalau kita sudah terlalu mengejar cuan?

1. Kamu selalu tergoda pindah ke investasi yang sedang naik

ilustrasi emas batangan (Pexels.com/Michael Steinberg)

Investasi yang kamu miliki sebenarnya masih sesuai dengan tujuan keuangan. Namun, begitu melihat aset lain naik lebih tinggi, kamu mulai merasa salah memilih. Akhirnya, investasi lama dijual. Uangnya dipindahkan ke aset yang sedang ramai. Beberapa waktu kemudian, muncul aset lain yang naik lebih tinggi lagi dan kamu kembali berpindah.

Kalau siklus ini terus terjadi, bisa jadi kamu lebih sibuk mengejar investasi yang sedang naik daripada menjalankan strategi investasi. Fenomena tersebut berisiko membuat investor melakukan market timing, yakni berusaha menebak kapan harus masuk dan keluar dari pasar. Padahal, mengejar keuntungan melalui perdagangan jangka pendek atau mencoba mengatur waktu pasar dapat membuat investor membeli ketika harga sudah tinggi dan menjual ketika pasar justru turun.

2. Angka keuntungan membuatmu lupa bertanya soal risikonya

ilustrasi rupiah (Pexels.com/Ahsanjaya)

Ada yang menawarkan investasi dengan imbal hasil 20 persen. Sekilas memang terdengar menarik. Namun, pertanyaan berikutnya seharusnya bukan “Bagaimana cara ikut?”, melainkan “Risikonya apa?”. Semakin besar potensi keuntungan sebuah investasi, semakin penting untuk memahami risiko yang menyertainya.

Setiap investasi memiliki risiko. Investasi dengan potensi return lebih tinggi umumnya juga memiliki risiko kerugian yang lebih besar. Karena itu, tawaran keuntungan tinggi dengan risiko sangat kecil atau bahkan tanpa risiko perlu dicurigai. Apalagi jika tawaran tersebut disertai janji seperti “pasti untung”, “dijamin”, atau “tidak mungkin rugi”.

Jadi, jangan hanya melihat potensi upside. Lihat juga kemungkinan downside-nya. Misalnya, jika sebuah investasi berpotensi memberikan keuntungan besar tetapi pada saat yang sama dapat membuat sebagian besar modal hilang, pertanyaannya bukan lagi berapa banyak yang bisa didapatkan, melainkan apakah kondisi keuangan tetap aman saat skenario terburuk terjadi.

3. Kamu makin sering transaksi hanya karena takut kehilangan kesempatan

ilustrasi trading (Pexels.com/Rafael Minguet Delgado)

Harga naik sedikit, beli. Harga turun, jual. Kemudian melihat aset lain naik, pindah lagi. Tanpa sadar, aktivitas investasi berubah menjadi aktivitas mengejar pergerakan harga.

Padahal, lebih banyak transaksi tidak otomatis berarti lebih banyak keuntungan. Terlalu aktif memantau pasar dapat membuat investor lebih mudah bereaksi terhadap pergerakan harga jangka pendek. Ketika harga naik, muncul rasa takut ketinggalan. Ketika harga turun, muncul kepanikan. Akhirnya, keputusan investasi lebih banyak dipengaruhi emosi daripada rencana yang sudah dibuat.

Mengejar keuntungan sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Bagaimanapun, mendapatkan return adalah salah satu tujuan investasi. Yang perlu diwaspadai adalah ketika keinginan mendapatkan keuntungan membuat kita mulai mengabaikan risiko, berpindah-pindah investasi tanpa alasan yang jelas, atau melakukan transaksi hanya karena takut kehilangan peluang.

Strategi yang lebih sehat adalah melihat investasi secara menyeluruh. Di antaranya tujuan keuangan, jangka waktu, toleransi risiko, biaya, dan diversifikasi. Dengan menyebarkan investasi ke berbagai aset, kerugian pada satu investasi tidak serta-merta menentukan seluruh kinerja portofolio. Sebab, dalam investasi, mendapatkan keuntungan memang penting. Namun, mendapatkan keuntungan dengan tingkat risiko yang masih bisa kita tanggung jauh lebih penting.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article