Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bank Mandiri Ungkap Tantangan Jaga Keamanan di Era Cashless
SVP Business Transformation Bank Mandiri Adhita Jona saat menjadi pembicara dalam sesi “Code of Trust: Cybersecurity in a Cashless Generation” di Indonesia Summit 2026 yang berlangsung di The Tribrata, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (dok. IDN Times)
  • Bank Mandiri menegaskan kepercayaan sebagai fondasi utama layanan digital, dengan memperkuat sistem keamanan dan memberi kontrol lebih besar kepada nasabah melalui fitur-fitur di aplikasi Livin'.

  • Ancaman terbesar di era cashless bukan peretasan sistem, melainkan social engineering yang memanfaatkan kelengahan pengguna untuk mencuri data pribadi seperti PIN, OTP, dan password.

  • Untuk menghadapi ancaman siber kompleks, Bank Mandiri mengadopsi teknologi AI guna mendeteksi potensi serangan serta meningkatkan keamanan dan efisiensi layanan melalui fitur call center di aplikasi Livin'.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Bank Mandiri membahas tantangan menjaga keamanan siber dan kepercayaan pengguna di era transaksi tanpa uang tunai dalam forum Indonesia Summit 2026 bertema “Code of Trust: Cybersecurity in a Cashless Generation”.
  • Who?
    SVP Business Transformation Bank Mandiri Adhita Jona dan CEO DANA Vince Iswara menjadi pembicara utama, membahas isu keamanan digital serta edukasi pengguna terhadap ancaman penipuan online.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di The Tribrata, Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian acara Indonesia Summit 2026 yang menghadirkan berbagai pelaku industri keuangan digital.
  • When?
    Diskusi digelar pada Rabu, 17 Juni 2026, dengan fokus pada kondisi terkini sektor perbankan dan layanan pembayaran digital di Indonesia.
  • Why?
    Peningkatan adopsi layanan digital menimbulkan kebutuhan besar untuk memperkuat keamanan sistem serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap modus social engineering yang marak terjadi.
  • How?
    Bank Mandiri memperkuat sistem melalui fitur keamanan di aplikasi Livin’ by Mandiri dan penerapan teknologi kecerdasan buatan untuk deteksi dini ancaman siber serta perlindungan data nasabah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Transaksi digital di Indonesia terus tumbuh seiring meningkatnya adopsi layanan perbankan digital dan dompet elektronik. Namun, di balik kemudahan tersebut, tantangan menjaga keamanan siber dan kepercayaan pengguna juga semakin besar.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam sesi “Code of Trust: Cybersecurity in a Cashless Generation” di Indonesia Summit 2026 yang berlangsung di The Tribrata, Jakarta, Rabu (17/6/2026). Hadir sebagai pembicara, SVP Business Transformation Bank Mandiri Adhita Jona dan CEO DANA Vince Iswara.

Dalam diskusi tersebut, keduanya sepakat bahwa keamanan sistem tidak lagi menjadi satu-satunya tantangan. Di era cashless, edukasi pengguna dan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital justru menjadi faktor yang semakin penting.

1. Kepercayaan menjadi fondasi utama di era cashless

SVP Business Transformation Bank Mandiri Adhita Jona bersama CEO DANA Vince Iswara saat menjadi pembicara dalam sesi “Code of Trust: Cybersecurity in a Cashless Generation” di Indonesia Summit 2026 yang berlangsung di The Tribrata, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (dok. IDN Times)

Adhita mengungkapkan masyarakat Indonesia kini semakin terbiasa menggunakan layanan digital untuk bertransaksi. Perubahan perilaku tersebut membuat institusi keuangan harus mampu menghadirkan layanan yang cepat, andal, sekaligus aman.

Menurutnya, produk utama yang dijual oleh perbankan bukan sekadar aplikasi atau layanan transaksi, melainkan kepercayaan.

"Kami di perbankan melihat bagaimana caranya menjaga kepercayaan itu. Kami punya Livin' by Mandiri, tetapi sebetulnya yang kami jual adalah kepercayaan dan keamanan," ujar Adhita.

Ia menjelaskan, Livin' by Mandiri saat ini melayani sekitar 4,8 miliar frekuensi transaksi dalam setahun. Karena itu, menjaga keandalan sistem menjadi hal yang sangat krusial agar nasabah tetap percaya menggunakan layanan digital.

"Kalau misalnya satu kali saja kami gagal saat transfer, uang nasabah memang tidak hilang dicuri, tetapi bisa pindah ke bank lain karena mereka sudah tidak percaya lagi kepada kami," katanya.

Untuk menjaga kepercayaan tersebut, Bank Mandiri terus memperkuat sistem keamanan dan memberikan kontrol lebih besar kepada nasabah melalui aplikasi Livin'. Pengguna dapat mengatur limit transaksi, memblokir kartu secara mandiri, hingga mengelola berbagai fitur keamanan sesuai kebutuhan mereka.

Selain itu, Adhita mengatakan Bank Mandiri memiliki Chief Information Security Officer (CISO Office), unit khusus yang bertugas mengawasi dan memperkuat keamanan siber guna melindungi data serta transaksi nasabah di tengah meningkatnya aktivitas digital.

2. Social engineering menjadi ancaman terbesar bagi pengguna layanan digital

CEO DANA Vince Iswara saat menjadi pembicara dalam sesi “Code of Trust: Cybersecurity in a Cashless Generation” di Indonesia Summit 2026 yang berlangsung di The Tribrata, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (dok. IDN Times)

Sementara itu, CEO DANA Vince Iswara menilai menilai ancaman yang paling banyak terjadi justru berasal dari praktik social engineering. Menurutnya, institusi keuangan telah menginvestasikan dana yang sangat besar untuk memperkuat sistem keamanan sehingga pelaku kejahatan lebih sering memanfaatkan kelengahan pengguna.

"Perusahaan seperti kami, Mandiri, bank-bank besar maupun penyelenggara jasa pembayaran sudah menginvestasikan sangat besar untuk sistem keamanan. Bisa ratusan miliar hingga triliunan rupiah," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kasus yang paling sering terjadi bukanlah pembobolan sistem, melainkan penipuan yang membuat korban secara sukarela memberikan data pribadi mereka. "Kalau kita ngomong hack, bisa terus terang kita belum pernah terjadi. Yang terjadi itu biasanya apa? Banyak sekali yang disebut social engineering," katanya.

Ia menjelaskan, social engineering dilakukan dengan berbagai modus, mulai dari tautan palsu, hadiah fiktif, hingga permintaan data pribadi yang tampak meyakinkan. Karena itu, Vince mengingatkan masyarakat agar tidak pernah membagikan PIN, OTP, password, maupun data pribadi kepada siapa pun.

Senada dengan Vince, Adhita mengatakan pihak bank tidak pernah meminta OTP, password, ataupun informasi pribadi nasabah melalui telepon, SMS, maupun WhatsApp.

"Kalau bank saja tidak pernah meminta password, OTP, atau data pribadi dari nasabah, maka jangan pernah percaya kepada siapa pun yang meminta data tersebut," kata Adhita.

3. AI dan fitur di Livin' by Mandiri jadi andalan Bank Mandiri memperkuat keamanan nasabah

SVP Business Transformation Bank Mandiri Adhita Jona bersama CEO DANA Vince Iswara saat menjadi pembicara dalam sesi “Code of Trust: Cybersecurity in a Cashless Generation” di Indonesia Summit 2026 yang berlangsung di The Tribrata, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (dok. IDN Times)

Untuk menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks, Bank Mandiri juga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam berbagai aspek operasional.

Adhita mengatakan AI saat ini digunakan tidak hanya untuk meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga membantu mendeteksi berbagai potensi ancaman keamanan.

"Kami sudah mulai mengadopsi AI juga. Bukan hanya untuk cybersecurity, tetapi juga untuk layanan. Untuk cybersecurity, AI membantu menjadi saringan awal ketika ada potensi serangan dan membuat perlindungan kami menjadi beberapa kali lebih kuat," ujarnya.

Salah satu implementasi yang telah diterapkan adalah layanan Call Bebas Pulsa di aplikasi Livin' by Mandiri. Melalui fitur tersebut, identitas nasabah dapat dikenali lebih cepat sehingga proses verifikasi menjadi lebih aman dan efisien.

"Kalau menelepon lewat aplikasi Livin' by Mandiri, kami sudah tahu siapa yang menelepon. Jadi tidak perlu lagi verifikasi berulang," katanya.

Di tengah semakin berkembangnya ekonomi digital, baik Bank Mandiri maupun DANA menilai keamanan siber tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Kewaspadaan dan literasi digital pengguna tetap menjadi benteng pertama dalam menghadapi berbagai modus kejahatan siber yang terus berkembang. (WEB)

Editorial Team

Related Article