CEO DANA Vince Iswara saat menjadi pembicara dalam sesi “Code of Trust: Cybersecurity in a Cashless Generation” di Indonesia Summit 2026 yang berlangsung di The Tribrata, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (dok. IDN Times)
Sementara itu, CEO DANA Vince Iswara menilai menilai ancaman yang paling banyak terjadi justru berasal dari praktik social engineering. Menurutnya, institusi keuangan telah menginvestasikan dana yang sangat besar untuk memperkuat sistem keamanan sehingga pelaku kejahatan lebih sering memanfaatkan kelengahan pengguna.
"Perusahaan seperti kami, Mandiri, bank-bank besar maupun penyelenggara jasa pembayaran sudah menginvestasikan sangat besar untuk sistem keamanan. Bisa ratusan miliar hingga triliunan rupiah," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kasus yang paling sering terjadi bukanlah pembobolan sistem, melainkan penipuan yang membuat korban secara sukarela memberikan data pribadi mereka. "Kalau kita ngomong hack, bisa terus terang kita belum pernah terjadi. Yang terjadi itu biasanya apa? Banyak sekali yang disebut social engineering," katanya.
Ia menjelaskan, social engineering dilakukan dengan berbagai modus, mulai dari tautan palsu, hadiah fiktif, hingga permintaan data pribadi yang tampak meyakinkan. Karena itu, Vince mengingatkan masyarakat agar tidak pernah membagikan PIN, OTP, password, maupun data pribadi kepada siapa pun.
Senada dengan Vince, Adhita mengatakan pihak bank tidak pernah meminta OTP, password, ataupun informasi pribadi nasabah melalui telepon, SMS, maupun WhatsApp.
"Kalau bank saja tidak pernah meminta password, OTP, atau data pribadi dari nasabah, maka jangan pernah percaya kepada siapa pun yang meminta data tersebut," kata Adhita.