Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Tips Bertahan Hidup Kaum Menengah in This Economy
ilustrasi rupiah (Pexels.com/Defrino Maasy)
  • Kelas menengah Indonesia mencapai 48,41 juta orang pada September 2024, sementara banyak lainnya masih berjuang mempertahankan daya beli di tengah biaya hidup dan risiko pendapatan turun.

  • Pengeluaran perlu dievaluasi dengan membedakan kebutuhan, keinginan, dan gaya hidup agar konsumsi tidak meningkat lebih cepat daripada pendapatan.

  • Dana darurat senilai tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin perlu dibangun, sambil menambah penghasilan melalui kerja sampingan, keterampilan, atau peluang kerja lebih baik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi bagian dari kelas menengah bukan berarti kondisi keuangan selalu aman. Justru, kelompok ini bisa berada di posisi yang cukup rentan ketika biaya hidup naik, pendapatan stagnan, atau terjadi PHK.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada September 2024, kelompok kelas menengah Indonesia mencapai 17,25 persen atau sekitar 48,41 juta orang. Sementara itu, kelompok yang menuju kelas menengah mencapai 49,29 persen.

Artinya, banyak yang berada di posisi yang masih harus berjuang mempertahankan daya beli. Lantas, apa yang bisa dilakukan agar kondisi keuangan tetap bertahan di tengah situasi ekonomi yang terasa makin menantang? Berikut beberapa tipsnya.

1. Bedakan kebutuhan, keinginan, dan gaya hidup

ilustrasi impulse buying (Pexels.com/Sora Shimazaki)

Salah satu tantangan kelas menengah adalah gaya hidup yang ikut meningkat seiring kenaikan pendapatan. Ketika penghasilan bertambah, pengeluaran untuk makan di luar, nongkrong, liburan, langganan layanan digital, hingga cicilan barang juga bisa ikut naik. Padahal, ketika pendapatan tiba-tiba berkurang, gaya hidup tersebut belum tentu bisa langsung dipangkas.

Karena itu, penting untuk mulai mengevaluasi pengeluaran secara berkala. Pisahkan mana kebutuhan pokok yang benar-benar harus dibayar. Catat mana keinginan dan mana pengeluaran yang sebenarnya hanya muncul karena kebiasaan.

BPS mencatat bahwa konsumsi kelas menengah sangat berperan terhadap perekonomian Indonesia. Pada 2024, kelompok kelas menengah dan kelompok yang menuju kelas menengah menyumbang sekitar 81,49 persen terhadap total konsumsi rumah tangga. Jadi, bukan berarti harus berhenti menikmati hidup. Namun, pastikan gaya hidup tidak tumbuh jauh lebih cepat daripada pendapatan.

2. Bangun dana darurat sebelum mengejar gaya hidup

ilustrasi uang kertas (Pexels.com/Ahsanjaya)

Punya penghasilan tetap memang membuat kondisi keuangan terasa lebih aman. Namun, pekerjaan dan pendapatan tidak selalu bisa dianggap permanen. PHK, bisnis yang menurun, kebutuhan medis, atau pengeluaran mendadak bisa membuat kondisi keuangan berubah dalam waktu singkat. Karena itu, dana darurat sebaiknya menjadi salah satu prioritas.

Dana darurat idealnya setara dengan tiga sampai enam bulan pengeluaran rutin. Dana tersebut juga sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang aman dan mudah dicairkan ketika diperlukan. Misalnya, jika kebutuhan rutin keluarga mencapai Rp8 juta per bulan, target dana darurat minimal bisa dimulai dari Rp24 juta hingga Rp48 juta.

Kalau jumlah tersebut terasa terlalu besar, tidak perlu langsung mengejarnya sekaligus. Mulailah dengan menyisihkan uang secara rutin setiap bulan sampai perlahan mencapai target. Intinya, jangan sampai seluruh penghasilan habis untuk mempertahankan gaya hidup sementara tabungan untuk menghadapi kondisi darurat justru tidak tersedia.

3. Cari cara menambah penghasilan, bukan hanya memangkas pengeluaran

ilustrasi freelancer (Pexels.com/Vitaly Gariev)

Berhemat memang penting, tetapi kemampuan untuk terus memangkas pengeluaran juga ada batasnya. Ada kebutuhan yang tidak mungkin dihilangkan, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, transportasi, dan kesehatan. Karena itu, strategi bertahan hidup sebaiknya tidak hanya berfokus pada penghematan, tetapi juga meningkatkan kemampuan menghasilkan uang.

Bisa dimulai dari pekerjaan sampingan, freelance, menjual produk atau jasa, meningkatkan keterampilan, hingga mencari peluang pekerjaan dengan penghasilan lebih baik. Langkah ini semakin relevan karena tekanan terhadap kelas menengah tidak hanya berasal dari harga barang, tetapi juga dari kondisi pasar kerja.

Bertahan di tengah kondisi ekonomi yang penuh tekanan bukan berarti harus hidup serba kekurangan. Terpenting adalah memastikan pengeluaran tetap terkendali, memiliki bantalan ketika terjadi masalah, dan terus membangun sumber penghasilan. Sebab, menjadi kelas menengah bukan hanya soal berapa besar penghasilan yang diterima setiap bulan, tetapi juga seberapa kuat kondisi finansial ketika keadaan tiba-tiba berubah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article