Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Yuan China makin Dilirik, RI Ikut Dorong Pergeseran Mata Uang Asia
ilustrasi mata uang yuan China (pexels.com/cottonbro studio)
  • Indonesia mendorong penggunaan yuan lewat rencana penerbitan panda bond senilai sekitar 1 miliar dolar AS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dan memperluas sumber pembiayaan.
  • Dominasi yen Jepang di Asia mulai melemah akibat nilai tukar yang terus turun, membuat daya tariknya sebagai mata uang pembiayaan regional berkurang dibandingkan sebelumnya.
  • Yuan China makin stabil dan diminati negara-negara Asia, sementara Indonesia memanfaatkannya untuk efisiensi biaya pinjaman tanpa meninggalkan prinsip diversifikasi kerja sama ekonomi global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perubahan peta ekonomi dunia ternyata juga mulai mengubah arah pergerakan mata uang di Asia. Selama puluhan tahun, yen Jepang menjadi salah satu mata uang utama yang digunakan dalam berbagai pinjaman dan proyek pembangunan di kawasan ini.

Namun, belakangan posisi tersebut mulai bergeser seiring meningkatnya peran yuan China dalam perdagangan dan pembiayaan internasional. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang ikut mendorong tren tersebut melalui rencana penerbitan panda bond.

Meski begitu, perubahan ini bukan berarti dominasi dolar Amerika Serikat langsung tergantikan, lho, melainkan menunjukkan bahwa negara-negara Asia mulai memiliki lebih banyak pilihan dalam urusan pembiayaan dan transaksi lintas negara.

1. Indonesia mulai memperluas sumber pembiayaan

ilustrasi uang rupiah (vecteezy.com/Miftachul Huda)

Langkah Indonesia menuju penggunaan yuan semakin terlihat setelah kunjungan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Beijing pada pertengahan Juni lalu. Dalam kunjungan tersebut, Kementerian Keuangan China dan People's Bank of China menyatakan dukungannya terhadap penerbitan panda bond pertama Indonesia yang nilainya ditargetkan mencapai sekitar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,3 triliun.

Selain itu, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) juga berkomitmen menyalurkan pembiayaan pembangunan hingga 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp277,1 triliun sampai tahun 2029, sekaligus berencana membuka kantor perwakilan di Jakarta.

Bagi Indonesia, langkah ini menjadi cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendanaan berbasis dolar AS. Melalui panda bond, investor di China akan menanamkan modal menggunakan yuan, sementara pemerintah Indonesia menerima dana dalam rupiah melalui mekanisme transaksi mata uang lokal yang telah disepakati kedua bank sentral. Skema tersebut dinilai mampu mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dolar sekaligus membuka akses pembiayaan yang lebih beragam.

2. Dominasi yen mulai kehilangan kekuatannya

ilustrasi mata uang yen (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

Selama beberapa dekade, Jepang memiliki pengaruh besar terhadap pembangunan Indonesia. Sepanjang 1965 hingga 1990, Indonesia menjadi penerima bantuan terbesar dari Jepang dengan total pembiayaan sekitar 74 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp1.206 triliun. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membangun pembangkit listrik, jaringan telekomunikasi, hingga infrastruktur transportasi yang masih dimanfaatkan hingga sekarang.

Hubungan tersebut bukan sekadar kerja sama ekonomi biasa. Menurut penelitian Yukiko Kuramoto dari Rikkyo University, bantuan pembangunan Jepang memang dirancang untuk memperluas penggunaan yen di Asia sekaligus memperkuat posisi Jepang sebagai pusat ekonomi kawasan. Namun kini situasinya berubah karena nilai tukar yen terus melemah terhadap dolar AS, sehingga daya tarik mata uang tersebut sebagai acuan pembiayaan regional ikut menurun.

3. Yuan semakin stabil dan menarik perhatian Asia

ilustrasi China (pexels.com/幼聪 戴)

Berbeda dengan yen yang terus mengalami tekanan, yuan justru menunjukkan pergerakan yang relatif lebih stabil sepanjang setahun terakhir. Penggunaan yuan dalam perdagangan antarnegara Asia juga terus meningkat, sementara porsi mata uang tersebut dalam cadangan devisa global perlahan bertambah. Kondisi inilah yang membuat semakin banyak negara mulai mempertimbangkan yuan sebagai alternatif dalam transaksi internasional.

Indonesia juga memperoleh keuntungan dari situasi tersebut. Melemahnya yen membuat beban pembayaran utang lama yang menggunakan mata uang Jepang, termasuk untuk proyek MRT Jakarta, menjadi lebih ringan.

Di sisi lain, rencana penerbitan panda bond diperkirakan menawarkan kupon sekitar 2,3 persen hingga 2,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan jika pemerintah menerbitkan obligasi dalam denominasi dolar AS sehingga berpotensi menghemat biaya pinjaman negara.

4. Pergeseran ini bukan berarti Indonesia berpihak

ilustrasi pasar tradisional di Indonesia (unsplash.com/Devi Puspita Amartha Yahya)

Meningkatnya kerja sama dengan China bukan berarti Indonesia meninggalkan mitra ekonomi lainnya, lho. Pemerintah justru menegaskan bahwa penerbitan panda bond merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan. Indonesia tetap membuka peluang investasi dari Amerika Serikat, Eropa, Singapura, maupun negara lain supaya gak bergantung pada satu mata uang saja.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berupaya menjaga keseimbangan dalam kebijakan ekonominya. Pengalaman puluhan tahun memanfaatkan pinjaman yen membuat pemerintah memahami pentingnya memiliki berbagai pilihan sumber pendanaan. Dengan begitu, risiko yang muncul akibat gejolak satu mata uang dapat ditekan tanpa harus mengubah arah kebijakan luar negeri Indonesia.

5. Asia mulai memilih jangkar mata uang baru

ilustrasi mata uang dolar AS, bendera Amerika Serikat dan China (pexels.com/www.kaboompics.com)

Perubahan yang terjadi saat ini menggambarkan bagaimana pasar bekerja dalam menentukan mata uang yang paling dipercaya. Mata uang yang dijadikan acuan bukan hanya ditentukan oleh besarnya ekonomi suatu negara, tapi juga oleh stabilitas, kemudahan transaksi, serta kepercayaan investor. Ketika yen terus melemah, banyak negara mulai melihat yuan sebagai alternatif yang semakin layak untuk mendukung perdagangan dan investasi di kawasan Asia.

Meski demikian, dolar AS masih tetap menjadi mata uang utama dalam sistem keuangan global. Pergeseran menuju yuan diperkirakan akan berlangsung secara bertahap dan berjalan berdampingan dengan dominasi dolar, bukan langsung menggantikannya. Pada akhirnya, negara-negara Asia akan memilih mata uang yang paling mampu memberikan stabilitas, efisiensi, dan biaya pendanaan yang kompetitif bagi pertumbuhan ekonomi mereka.

Meningkatnya penggunaan yuan di Asia menunjukkan bahwa peta ekonomi kawasan sedang mengalami perubahan yang cukup besar. Indonesia ikut mengambil bagian dalam proses tersebut dengan memperluas sumber pembiayaan melalui panda bond tanpa meninggalkan prinsip diversifikasi dan kerja sama dengan berbagai negara.

Sementara itu, melemahnya yen membuat posisi mata uang Jepang gak lagi sekuat beberapa dekade lalu sebagai penopang pembiayaan regional. Ke depan, persaingan antar mata uang di Asia kemungkinan akan semakin dinamis, sementara setiap negara akan terus mencari instrumen pembiayaan yang paling menguntungkan bagi stabilitas dan pertumbuhan ekonominya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article