Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

CEK FAKTA: Benarkah RI Enggan Pakai Dolar AS dan Beralih ke Yuan China?

CEK FAKTA: Benarkah RI Enggan Pakai Dolar AS dan Beralih ke Yuan China?
ilustrasi dolar AS (unsplash.com/Viacheslav Bublyk)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Klaim di media sosial menyebut Menkeu Purbaya ingin menghentikan penggunaan dolar AS dan beralih penuh ke yuan China, namun informasi ini menimbulkan kebingungan publik.
  • Pemerintah berencana menerbitkan Panda Bond di pasar keuangan China sebagai langkah diversifikasi pembiayaan dan penguatan nilai tukar rupiah tanpa sepenuhnya meninggalkan dolar AS.
  • Faktanya, Indonesia tidak mengganti seluruh transaksi dengan yuan; penerbitan Panda Bond hanya strategi memperluas sumber pendanaan agar tidak bergantung pada satu mata uang atau pasar tertentu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times – Beredar unggahan di media sosial Thread yang menyebut Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akan setop total penggunaan dolar Amerik Serikat di tengah anjloknya harga tukar rupiah.

Dalam unggahan aendrollink diseburkan Bendahara Negara menyatakan semua transaksi perdagangan internasional akan beralih ke mata uang Yuan, China.

"Menteri keuangan Purbaya secara blak-blakan tidak mau lagi bergantung pada dollar as dan berpindah haluan ke mata uang Yuan, China," klaim narasi dalam unggahan tersebut, dikutip IDN Times, Minggu (31/5/2026).

1. RI disebut enggan bergantung ke AS

Ilustrasi dolar AS ( ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Ilustrasi dolar AS ( ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Dalam unggahan itu, Purbaya juga disebutkan bahwa pemerintah membuka opsi untuk menerbitkan panda bond di pasar saham China. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS.

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam bentuk Panda Bond di China. Sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Kita tetap diversifikasi supaya gak tergantung ke pembiayaan Amerika Serikat atau negara-negara barat," tulisnya.

Unggahan itu kemudian memunculkan berbagai spekulasi, Indonesia akan meninggalkan dolar AS dan menggantinya dengan Yuan sebagai acuan utama pembiayaan negara. Bagaimana faktanya?

2. Indonesia bakal terbitkan Panda Bond

Membahas tentang tidak lanjut dari arahan presiden
Potret Kemenkeuri Purbaya Yudhi Sadewa

Purbaya sebelumnya menyatakan, pemerintah akan menerbitkan obligasi global, yakni Panda Bond. Ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Hal tersebut disampaikan Purbaya seusai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Negara, Selasa (5/5/2026) malam.

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam Panda Bond di China," kata Bendahara Negara itu.

Panda Bond merupakan surat utang yang diterbitkan oleh entitas asing di pasar keuangan China menggunakan mata uang renminbi atau yuan. Melalui instrumen ini, Indonesia dapat memperoleh pendanaan dari investor China tanpa harus menerbitkan utang dalam denominasi dolar AS.

Purbaya menyampaikan, obligasi global tersebut akan memiliki bunga yang lebih rendah. Denga demikian tidak tergantung terlalu banyak ke dolar AS.

"Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan. Jadi prospek kita bagus, teman-teman semua nggak usah takut. Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak, jadi Anda nggak usah takut," tuturnya.

3. Apakah Indonesia benar-benar beralih dari dolar ke Yuan?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Jawabannya tidak. Dalam pernyataan yang tersedia, Purbaya tidak mengatakan Indonesia akan meninggalkan dolar AS sepenuhnya atau mengganti seluruh pembiayaan negara dengan yuan.

Penerbitan Panda Bond di pasar saham China hanya upaya diversifikasi sumber pembiayaan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu mata uang atau satu pasar pendanaan saja. Artinya, pemerintah ingin menambah opsi pembiayaan melalui pasar China tanpa menghentikan penggunaan dolar AS.

Diversifikasi semacam ini juga lazim dilakukan banyak negara untuk mengurangi risiko gejolak nilai tukar dan memperluas basis investor. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sempat menyatakan, rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya (undervalued).

Kendati demikian, kondisi tersebut diklaim BI bukan mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi nasional. BI juga mengklaim, indikator makro masih menunjukkan kinerja yang solid, sehingga rupiah dinilai memiliki ruang untuk menguat dalam waktu ke depan.

Kesimpulan: klaim bahwa Menkeu Purbaya ingin mengakhiri ketergantungan pada dolar AS dan beralih sepenuhnya ke yuan China adalah misleading. Faktanya, penerbitan Panda Bond di pasar Tiongkok hanya sebagai instrumen untuk kembali menguatkan nilai tukar rupiah.

Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More