Lembar Oktober terbuka
Mengingat kembali luka di masa lama
Ada hati yang tetap retak abadi
Walau waktu terus berjalan pergi

Menjalani hari seperti biasa
Seolah diri baik-baik saja
Namun, langit menyambutnya dengan sengaja
Memberi pelukan penghangat duka

Air mata hujan di awal oktober sebagai pertanda
Bahwa dunia tak melupakan insan-Nya
Haruskah aku ikut terbawa hanyut akan buaiannya?
Atau bertahan walau tahu bahwa tak ada obat penyembuh luka