Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Aku Hanyalah Rapuh yang Terpendam

1 min read
[PUISI] Aku Hanyalah Rapuh yang Terpendam
ilustrasi seorang perempuan dalam perjalanan (freepik.com/hallodavidpradoperucha)
  • Puisi menggambarkan kerentanan batin yang dipendam, dengan tokoh aku merasakan luka mendalam dan memeluk serpihan diri dalam kesunyian malam.

  • Waktu digambarkan mengukir nestapa pada jiwa yang lelah, sementara sebagian luka diabadikan menjadi aksara yang bernilai.

  • Tokoh aku memilih menerima kepedihan yang mungkin hadir esok tanpa menyalahkan keadaan, demi tidak kehilangan diri dalam kesakitan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Andai hati serupa batu pualam
Takkan kurasa perih yang menikam begitu dalam
Namun aku hanyalah rapuh yang terpendam
Memeluk serpihan diri di kesunyian malam

Biarlah waktu mengukir garis nestapa
Pada tubuh jiwa yang letih mengeja makna
Sebab tak semua luka menjelma jadi petaka
Ada yang diabadikan dalam aksara yang berharga

Jika esok masih kutemui kepedihan
Akan kuterima tanpa menyalahkan keadaan
Meski luka baru kembali terukir perlahan
Aku tak ingin kehilangan diriku dalam kesakitan

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article
    Editorial Team

    Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet