Kukira tatapmu menyimpan tujuan,
Ternyata hanya singgah dalam perjalanan.
Aku telanjur menaruh pengharapan,
Pada isyarat tanpa kepastian.

Kau datang serupa cahaya temaram,
Cukup dekat, tetapi tetap tenggelam.
Kukejar bayang hingga malam kelam,
Baru kusadar semuanya begitu samar.

Barangkali aku salah membaca,
Mengira diam sebagai pertanda.
Sedang bagimu semua biasa saja,
Dan aku sibuk merangkai makna.

Kini, harap perlahan kulepaskan,
Meski hati belum selesai merelakan.
Sebab, yang samar tak perlu dipaksakan,
Ada yang indah meski tak ditakdirkan.