Di Kalimantan, api menjilat hutan
asap menghitam, langit kehilangan terang
pohon-pohon tumbang dalam kepungan
satwa berlari mencari perlindungan
Di rumah-rumah, anak menahan sesak napas
sementara dari gedung tinggi
tak terdengar kecuali sunyi
seolah hutan yang terbakar
bukan milik negeri ini
Hari demi hari berganti, api tak kunjung padam
asap menggantung pekat sepanjang malam
Kami menunggu tangan yang datang memadam
namun yang tiba hanya janji yang tenggelam.
Kalimantan menangis tanpa suara
sementara mereka yang berkuasa
berlagak seolah tak terjadi apa-apa
Kelak ketika hutan tinggal kenangan
ketika sungai kehilangan teduh pepohonan
ketika anak-anak bertanya tentang lahan hijau
yang hanya mereka lihat dalam gambar dan cerita
siapa yang akan menjawab
mengapa api dibiarkan membesar?
Jika bumi adalah rumah bersama
mengapa ketika rumah ini terbakar
mereka yang menjaga pintunya
justru memilih berpaling muka?
![[PUISI] Asap Kalimantan dan Wajah-Wajah yang Berpaling](https://image.idntimes.com/post/20261014/pexels-snsn-9633006_8814b6a4-7ad0-4b81-8ff8-eadfd2fe691e.jpg)