Ayah menyimpan lelah di saku,
Pulang membawa senyum yang lugu.
Tak pernah bercerita tentang pilu,
Seolah hidup selalu baik untukmu.

Tangannya kasar memeluk waktu,
Mengejar pagi hingga senja berlalu.
Peluh mengalir tanpa banyak mengadu,
Demi rumah yang tetap terasa teduh.

Kadang, langkahnya mulai melambat,
Namun, tekadnya tak pernah surut sesaat.
Ia sembunyikan luka yang berat,
Di balik tawa yang tampak hangat.

Kelak ketika rambutnya memutih,
Barangkali langkah tak lagi gigih.
Peluklah ayah sebelum waktu beralih,
Sebab, cintanya bekerja tanpa pamrih.