Kata Wiji tak ada guna punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Namun, di negeri yang kusayangi
Jongos-jongos dengan ilmu tinggi
Jadi bahan tertawaan nepo babi
Yang cukup sejengkal akselerasi
Langsung diangkat sebagai pengganti
Kata temanku di kanan kiri
Buat apa lelah mengkritisi
Kalau kelak bakal dihabisi
Bukan sulit masuk jeruji
Hanya sebab melempar opini
Mending cari aman jadi apati
Toh, dari dulu cari makan sendiri
Lagi-lagi apa guna banyak baca buku
Kata Wiji, kalau mulut kau bungkam melulu
Namun, di negera yang prioritasnya isi perutmu
Boro-boro banyak membaca buku
Mendatangi toko keburu tak bernafsu
Lantaran harga yang terpajang setara satu
Bulan gaji bapak ibu guru
Di bawah selimut kedamaian palsu
Makin terang-terangan para pemangku
Sekali pun berakal tak pernah dalam berperilaku
Boro-boro mampu lantang meneriakkan pilu
Setiap sudut memilih diam tanpa sepatah asu
Lantaran lidah telanjur kelu dan kaku
Bukan mustahil besok pagi jidat ditembus peluru
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Buat Apa Bersuara?
![[PUISI] Buat Apa Bersuara?](https://image.idntimes.com/post/20260215/geralt-cry-6706856_3758e4b4-39e5-4542-a94e-9482f6ab4425.jpg)
ilustrasi bersuara (pixabay.com/Gerd Altmann)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us