Kepada Ramadan,
aku titipkan lelah yang panjang,
pada malam yang paling tenang,
agar ia luruh bersama ampunan.

Kau tahu,
Ramadan selalu pandai menenangkan resah,
ia datang tanpa pamer cahaya,
tetapi hangatnya tinggal lama di dada.

Di antara sahur dan doa yang lirih,
aku belajar menahan yang berlebih,
bukan hanya lapar yang perih,
tapi juga hati yang sering rapuh dan berselisih.

Kepada Ramadan,
aku belajar pulang dengan perlahan:
meminta maaf,
melepaskan dendam,
meski ego sering ingin bertahan.