Di masa kecilku, aku melihat banyak yang bertamu
Tak lama purnama seolah tersihir oleh keramaian
Tapi, ia tak lekas menjadi cantik
Ditengah bising aduan tangisan
Kulihat ibu disampingku, terisak hingga wajahnya memerah
Aku mencoba menepuk punggungnya
Barangkali, ia tersedak
Barangkali, ia menangisi perihal pukulan itu lagi
Walau ramai dan lebat, sunyi mencoba datang dari masa lalu
Dengan lisan mereka berkata yang tabah ya!
Oh, kiranya ku tau ibu menangisi bapak yang hanya diam saja
Melayang-layang diatas langit-langit kamar
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Bukan Negeri Para Peri

Ilustrasi tangga dalam kegelapan (pixabay.com/leocastrum)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorAnanda Zaura
Follow Us