Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi tertawa bahagia
ilustrasi tertawa bahagia (pexels.com/Leah Newhouse)

Kubanting pintu pada kenangan yang terus merengek
Memutus rantai yang bikin leherku terasa tercekik
Dulu aku penimbun duka, penyimpan sesak paling setia
Namun, hari ini, semua sampah itu kubakar habis tanpa sisa

Tak perlu lagi menyesali diri yang pernah babak belur
Saatnya berdiri, menegakkan dada, dan biarkan trauma terkubur
Dunia tidak kiamat hanya karena aku pernah patah
Dari remah-remah ini, aku bangun rumah yang lebih megah

Aku tidak lagi menunggu izin untuk merasa bahagia
Atau menanti sembuh total baru berani tertawa
Cukup sedih-sedihnya, masanya sudah lewat
Sekarang waktunya melesat dengan jiwa yang kian kuat

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎