Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Di Bawah Langit yang Berhitung
ilustrasi merenung (Pexels.com/Gabriela Palai)

Di bawah langit yang pandai menghitung,
kita menakar harap yang kian menggantung,
harga-harga naik tanpa menunggu,
sementara upah berjalan tersedu.

Pasar riuh oleh angka dan tawar,
namun isi dompet kian samar,
kebutuhan berdiri makin besar,
sedang daya beli kian pudar.

Di meja-meja sederhana rumah,
terhitung cermat sisa yang lemah,
antara ingin dan harus menyerah,
kita belajar kuat dalam resah.

Janji-janji tumbuh di layar berita,
tentang pulihnya roda yang katanya nyata,
namun di sudut kota yang sama kita,
realita masih menunda sejahtera.

Di lorong kerja yang kian menyempit,
peluh jatuh tanpa pasti terhimpit,
hari-hari dirajut dengan pahit,
namun asa tetap enggan terhimpit.

Meski badai belum jua reda,
kita menyalakan harap seadanya,
sebab di balik kerasnya dunia,
ada tekad yang tak mudah sirna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team