Begitu getirnya
sunyi meraba luka-luka
belum sempat mengering
di balik pekat yang mencengkeram itu
aku ingin berterima kasih.

Terima kasih atas segala fitnah
yang tersemat, dipakukan erat-erat,
menjadi jubah prasangka
di punggung biruku.

Kutitipkan perih ini pada tubuh bisikan
mengembara tanpa lelah
mengetuk tiap tembok
ke mana-mana mencari cinta.

Biarlah desas-desus terbang bersama angin
sebab di ujung malam paling sepi,
aku tahu ke mana hati ini harus pulang.