Di kepalanya, ada mimpi yang menyala terang,
Jejak langkahnya melanglang buana, menembus ruang.
Ia tertawa lepas, merayakan hidup yang ia genggam,
Membangun dunia dari peluh dan malam yang lebam.
 
Namun, di ujung meja, sepasang mata sibuk menghakimi,
Mengabaikan seluruh tawa dan mandirinya hari ini.
Seolah semua pencapaian hanyalah hiasan semu,
Hanya karena jemarinya belum dilingkari cincin temu.

"Kapan?" menjadi peluru yang siap siaga ditembakkan,
Seakan hidup seorang perempuan punya tanggal kedaluwarsa yang ditentukan.
Mereka lupa, ia adalah cerita utuh yang sedang ditulis rapi,
Bukan sekadar bab tunggu untuk melengkapi sepi.
 
Ia adalah asyik yang tak butuh validasi pelaminan,
Bahagianya megah, berdiri di atas kaki sendiri tanpa keraguan.
Maka lihatlah ia sebagai manusia yang sedang merdeka,
Bukan cuma sekeranjang tanya, "Kapan berkeluarga?"