aku pernah mengira
menjadi dewasa berarti
tak lagi membutuhkan siapa-siapa.

maka kupelajari cara pulang
tanpa membawa cerita
cara tersenyum di depan pintu
meski hari baru saja mengajariku
betapa mudahnya seseorang patah.

ibu selalu tahu.

ia tak pernah bertanya
mengapa mataku lebih dulu lelah
daripada tubuhku
atau mengapa aku lebih sering berkata
“aku baik-baik saja”
ketika sebenarnya tidak.

ia hanya membuka pintu
seperti dulu
seolah dunia di luar sana
tak pernah cukup kejam
untuk membuatku kehilangan tempat pulang.

malam itu,
aku duduk di sampingnya
dan untuk pertama kalinya
setelah sekian lama
kubiarkan kepalaku bersandar
di bahunya.

aneh,
ternyata umur tidak membuat
pelukan ibu menjadi sempit.

justru aku yang terlalu lama
sibuk berpura-pura kuat
sampai lupa
bahwa pernah ada sepasang tangan
yang tak meminta apa-apa
selain memastikan aku baik-baik saja.

ibu tidak menyembuhkan lukaku.
ia hanya memelukku
cukup lama
sampai aku berani mengaku:

ternyata,
aku masih anak kecil
yang ingin pulang
ketika dunia terasa terlalu bising.

dan di pelukan ibu,
aku tak perlu menjadi siapa-siapa.

cukup menjadi anaknya.