aku pernah mengira
menjadi dewasa berarti
tak lagi membutuhkan siapa-siapa.
maka kupelajari cara pulang
tanpa membawa cerita
cara tersenyum di depan pintu
meski hari baru saja mengajariku
betapa mudahnya seseorang patah.
ibu selalu tahu.
ia tak pernah bertanya
mengapa mataku lebih dulu lelah
daripada tubuhku
atau mengapa aku lebih sering berkata
“aku baik-baik saja”
ketika sebenarnya tidak.
ia hanya membuka pintu
seperti dulu
seolah dunia di luar sana
tak pernah cukup kejam
untuk membuatku kehilangan tempat pulang.
malam itu,
aku duduk di sampingnya
dan untuk pertama kalinya
setelah sekian lama
kubiarkan kepalaku bersandar
di bahunya.
aneh,
ternyata umur tidak membuat
pelukan ibu menjadi sempit.
justru aku yang terlalu lama
sibuk berpura-pura kuat
sampai lupa
bahwa pernah ada sepasang tangan
yang tak meminta apa-apa
selain memastikan aku baik-baik saja.
ibu tidak menyembuhkan lukaku.
ia hanya memelukku
cukup lama
sampai aku berani mengaku:
ternyata,
aku masih anak kecil
yang ingin pulang
ketika dunia terasa terlalu bising.
dan di pelukan ibu,
aku tak perlu menjadi siapa-siapa.
cukup menjadi anaknya.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Di Pelukan Ibu
![[PUISI] Di Pelukan Ibu](https://image.idntimes.com/post/20261006/pexels-ines-pavao-59970034-38000586_3ea29f5f-01c3-4986-825b-7e65c950ce7e.jpg)
ilustrasi seorang anak memeluk ibunya (pexels.com/Inês Pavão)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- Mengendus Harumnya Bisnis Nilam Indonesia yang Terbang ke Luar Negeri03 Oct 2026, 10:00 WIB
- [PUISI] Aku Cinta Kamu20 Sep 2025, 09:47 WIB
- 17 Politisi hingga Pakar Bicara soal Ambang Batas Parlemen29 Sep 2026, 12:44 WIB
- [PUISI] Perempuan di Tengah Badai24 Apr 2026, 21:07 WIB
Editorial Team
EditorNabila Inaya
Related Article
[PUISI] Di Pelukan Ibu12 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Sedari Awal Monolog12 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI]] Bualan Benalu11 Oct 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Ketika Bisaku Tak Lagi Berarti11 Oct 2026, 14:17 WIB
[PUISI] Tak Ada yang Terlambat11 Oct 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Lelah yang Terbayarkan11 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Ayah Menyimpan Lelah di Saku11 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Terang-benderang10 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Kita yang Pernah Begitu Yakin10 Oct 2026, 20:17 WIB
[PUISI] Semangkuk Bubur yang Kurindukan10 Oct 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Semesta Durjana10 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Perang yang Tak Terlihat10 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Nama yang Tetap Kupanggil10 Oct 2026, 00:30 WIB
[PUISI] Kepada Kamu yang Tak Lagi Pulang09 Oct 2026, 23:50 WIB
[PUISI] Noda Kebebasan09 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Dua Puluh Lima09 Oct 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Senja di Jantung Kota09 Oct 2026, 14:47 WIB
[PUISI] Di Pangkuan Ayah09 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Salah Menafsirkan Pertemuan09 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Dua Orang dan Satu Musim08 Oct 2026, 21:07 WIB