Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Harap yang Berkabung
ilustrasi kursi kosong (pexels.com/Abdulkadir Emiroğlu)

Setitik luruh menghantam tabu.
Mengikis batu yang tak lagi utuh.
Diam, sepi kian merana.
Lambat, tanpa rasa salah.
Menanti jutaan harap yang tak terbayar.

Lama waktu berganti zaman.
Harap yang melangkah merajut harsa.
Mengais mimpi melubangi harap.
Menuntut waktu kian melambat.
Menuntut batu untuk kian berpijar pada musim hujan.

Lamat sunyi kian menerkam.
Menebak angan yang tak suara.
Aku merana, membayangkan manisnya kasih pada dulu kala.
Aku merana, melihat mereka saling menebar cinta.

Oh, sayang.
Kapan waktu aku menantimu?
Menanti janji tanpa ujung.
Menanti harap yang berkabung.
Mengharap sudah aku terlanjur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team