Selimut awan menyembunyikan aurora
Kilasan hutan hiasi kota yang menua
Besi dan beton yang beriringan
Saksi mata alunan elegi perjalanan
Kerahku perlahan melukis noktah kuning
Mengisi piring harapan dalam laju tuntutan yang tinggi
Mata yang lelah dalam batas hari yang genting
Berpaku asa yang menggunung tanpa sanggup didaki
Tubuhku telah mengembun oleh waktu
Tak lagi mampu menangkap sang trio jarum
Andai kesempatan dapat berjalan mundur
Laksana awan jalanan di kaca sampingku
Seketika lampu sein kaburkan lamunan
Dilema hati terpaksa diakhiri rembulan
Genggamanku tetap kokoh pada kemudi
Walau telah sirna segala arti imaji pada takdir
![[PUISI] Jalan Pulang](https://image.idntimes.com/post/20260629/young-man-driving-his-car-night-time_7aeb9b26-ad35-4b0d-a82e-65118dcdd261.jpg)