Di meja panjang terhidang porselen berkilau
Anggur dituang hingga nyaris meluap
Nama-nama bertukar tempat di serbet sutra
Takdir diringkas dalam sepotong hidangan
Di luar jendela musim kehilangan arah
Ladang-ladang menunggu hujan yang tertunda
Seseorang menghitung receh di telapak tangan
Sementara sendok kayu saling beradu
Tak semua kursi disediakan untuk suara
Sebagian hanya mengenal anggukan
Sebagian lain mewarisi pintu yang terbuka
Tanpa pernah ditanya apa yang dibawanya
Kelak piring-piring itu akan dibersihkan
Lilin padam tanpa meninggalkan saksi
Namun sejarah pandai menyimpan noda
Pada tangan yang pulang tanpa mengenal luka
![[PUISI] Jamuan bagi Mereka yang Berkuasa](https://image.idntimes.com/post/20261019/pexels-daniel-adebayo-509094183-28195180_676641ea-2640-4e11-b37a-8d0cf4160df9.jpg)