Kata terucap ringan, tapi berduri,
menancap hati, diam pun berseri.
Seolah senyum menyembunyikan misteri,
tapi pedihnya nyata tak terkira ini.
Bisik yang jatuh seperti hujan malam,
menggenang di dada tanpa salam.
Setiap hurufnya memanggil kelam,
meninggalkan jejak luka yang dalam.
Kadang kata datang tanpa niat jahat,
tapi tetap menoreh, tak ada yang lepas.
Menyimpan rindu, sekaligus sesak,
mengubah hangat jadi dingin yang pekat.
Kata pergi, tapi bekasnya melekat,
menjadi luka yang tak mudah lepas.
Seperti bayangan yang diam menepak,
menyisakan sunyi dalam jejak.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Kata yang Menjadi Luka

ilustrasi perempuan merenung (pexels.com/Bimbim Sindu)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us