Ia adalah peta yang dilipat sembarang
Namun selalu tahu jalan pulang
Berbelok, tersesat, lalu tertawa
Seolah hidup bukan lomba tiba duluan

Kerandomannya sering mengacaukan rencana
Namun jarang mengacaukan niat baik
Ia datang tak tepat waktu
Tapi selalu tepat saat dibutuhkan

Kami berbeda seperti hujan dan debu
Namun bertemu di satu halaman yang sama
Tentang tumbuh dari rumah yang serupa
Meski arah langkah sering tak sejalan

Jika dunia terasa terlalu serius
Aku mencari namanya di antara tawa
Karena saudara adalah bukti
Bahwa yang berisik justru paling mengerti diamku