Di masa purba kita pernah berkencan di kebisuan
Malam purnama menyinarkan cahaya ke matamu
Juga mataku tak berani mengerling: terlalu silau
Tak berani menatap barang sedetik
Terlalu takut ditatap kembali oleh mata seindah matamu
Dan kebisuan pun tak kunjung pecah
Seperti bisul pada pantatku yang tertekan pada sadel sepeda: menyakitkan
Dan ketika bisul kita pecah
Nanahnya meluber berdenyut-denyut menyakitkan
"aku duluan," katamu di persimpangan sembari melambaikan tangan
![[PUISI] Kencan yang Tersisa di Ingatan](https://image.idntimes.com/post/20251020/pexels-cottonbro-10071546_8ac9ec72-5005-4268-8b8a-7255e82966ff.jpg)