Ada beberapa hal yang tak dimengerti orang lain,
meski sekeras apa pun penjelasan disampaikan.
Yang datang justru hanya sia-sia,
bukan pengertian yang diam-diam diharapkan.
Di ujung lorong,
aku bertemu sepi.
Ia tidak berisik,
tidak pula menghakimi,
hanya mendengarkan dengan tenang.
Aku mencoba tinggal di antaranya,
menyamankan diri di ruang sunyi,
bahkan berteman dengan redup cahaya,
setelah keramaian tak lagi peduli padaku.
Disanalah aku bebas,
bercerita sesuka hati,
menangis sekencang yang aku mau,
tanpa takut dimarahi atau dianggap berlebihan.
Sepi memang tak berwujud,
tetapi hadirnya begitu nyata.
Rangkulannya begitu terasa,
kesunyiannya begitu menenangkan.
Karena itu lah,
aku memilih sepi.
Bukan tidak ada lagi orang yang bisa kupercaya,
tetapi karena di sanalah ceritaku tak diremehkan.
![[PUISI] Kepada Sepi, Aku Bercerita](https://image.idntimes.com/post/20260405/pexels-marcelo-jaboo-219257-696407_df88c043-fdfb-4f11-bfde-f38945497706.jpg)